Visi & Misi

Visi
Menjadikan siswa berakhlak karimah, berprestasi akademik optimal.

Misi
Menjadikan lembaga pendidikan Islam yang layak dan mudah di contoh.

Dengan senantiasa meneladani Rasulullah Saw, mari tingkatkan terus semangat berbudi sekaligus berprestasi internasional

Senin, 24 Agustus 2009

8 Amalan Utama di Bulan Ramadhan (3-4)

3. Berinfaq dan Memberikan Buka Puasa

Dari Ibnu Abbas ra. meriwayatkan dalam hadits Bukhari, bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan dan kedermawanannya memuncak ketika Ramadhan tiba, bagaikan angin yang berhembus. Dalam hadits lain, Rasulullah Saw. bersabda:
"Barangsiapa yang memberi buka kepada orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala senilai pahala yang didapatkan orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala yang berpuasa sedikitpun." (HR. Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah)

4. Membaca Al Qur'an

Membaca Al Qur'an setiap hari adalah amal yang diperintahkan bagi setiap muslim. Dan tentu harus ditingkatkan di bulan Ramadhan. Apalagi bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur'an. Syukur kalau tidak hanya membaca, tapi juga memahami makna, menghafalkan bahkan mendakwahkan nilai-nilai Al Qur'an.

5. ...
Selengkapnya......

Minggu, 23 Agustus 2009

8 Amalan Utama di Bulan Ramadhan (2)

2. Menghidupkan Malam Ramadhan dengan Ibadah
Sangat dianjurkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah di malam-malam bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Rasulullah:
"Barangsiapa yang menghidupkan malam Ramadhan dengan ibadah, karena iman dan semata mengharapkan ridho Allah, maka akan diampuni dosa-dosa yang telah diperbuatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

3. ...
Selengkapnya......

Sabtu, 22 Agustus 2009

8 Amalan Utama di bulan Ramadhan (1)

1. Puasa

Ini adalah amaliah yang paling istimewa selama bulan Ramadhan. Tidak saja sebagai penghapus dosa dosa-dosa, tapi juga sebagai ibadah yang tiada banding karena kebaikannya akan dilipatgandakan tidak terhingga.
Rasulullah bersabda: "Shalat 5 waktu, Jum'at sampai Jum'at berikutnya, Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya, adalah penghapus dosa-dosa antara keduanya, sepanjang dosa-dosa besar ditinggalkan." (HR Muslim)
Agar puasa kita berkualitas, perlu memperhatikan hal-hal berikut:
  • Memahami ilmu dan rambu-rambunya.
  • Bersungguh-sungguh menjalankan puasa dengan menaati aturannya.
  • Menjauhi hal-hal yang bisa mengurangi/menggugurkan nilai puasa.
  • Tidak meninggalkan puasa dengan sengaja tanpa halangan yang dibenarkan agama.
  • Makan sahur dan mengakhirkannya.
  • Berbuka dan menyegerakannya.
  • Berdo'a terutama pada saat berbuka.
2. ... (bersambung)
Selengkapnya......

Kamis, 20 Agustus 2009

Tarhib Ramadhan 1430

Kamis (20/8), seluruh siswa SD Al Hikmah berpenampilan tidak seperti biasanya. Dalam rangka menyambut kedatangan bulan Ramadhan, mereka seluruhnya tidak menggunakan seragam namun menggunakan pakaian bebas muslim.
Sebar brosur menyambut Ramadhan di sekitar lingkungan SD Al Hikmah adalah salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh perwakilan dari masing-masing kelas (baca: ketua kelas). Sementara siswa-siswa yang lain mengikuti kegiatan tarhib ramadhan di Hall untuk kelas 4, 5, dan 6. Untuk kelas 1, 2 dan 3 mengikuti kegiatan di serambi masjid Al Hikmah. Kegiatan di Hall diisi dengan tausiah oleh Da'iah Cilik Ais siswa SMP Al Hikmah, finalis Pildacil. Selain kegiatan sebar brosur dan tausiah menjelang Ramadhan, siswa siswi SD Al Hikmah juga melakukan kegiatan menulis ucapan selamat melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan melalui kartu pos yang akan dikirimkan ke alamat yang dituju oleh masing-masing siswa. Tak ketinggalan, juga dikompetisikan musik 'beduk sahur' antar masing-masing kelas.


Selengkapnya......

Rabu, 19 Agustus 2009

WIB atau BBWI sih?

Alex Murgito

Sejalan dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1987, wilayah waktu di Indonesia dibagi menjadi tiga yang masing-masing dikenal oleh masyarakat dengan singkatan WIB, Wita dan WIT.

Bentuk kepanjangannya masing-masing adalah Waktu
Indonesia Barat, Waktu Indonesia Tengah, dan Waktu Indonesia Timur. Pada ungkapan itu kata barat, tengah, dan timur menerangkan kelompok kata waktu Indonesia dan bukan hanya menerangkan kata Indonesia. Dengan demikian, harus ditafsirkan bahwa yang dibagi adalah wilayah waktu, bukan wilayah (pemerintahan) Indonesia menjadi Indonesia Barat, Indonesia Tengah, ataupun Indonesia Timur.

Dalam penggunaannya di masyarakat muncul singkatan BBWI, alih-alih WIB. Ada yang menyebutkan kepanjangannya (a) Bagian Barat Wilayah Indonesia dan ada pula yang menyebutkan (b) Bagian Barat Waktu Indonesia. Kepanjangan (a) tidak mengacu ke wilayah waktu. Selain itu, Bagian Barat Wilayah Indonesia dapat ditafsirkan ‘daerah yang terletak di sebelah barat di luar wilayah Indonesia’ karena dalam urutan kata seperti itu kelompok kata bagian barat diterangkan oleh kelompok kata wilayah Indonesia. Kepanjangan (b) lebih kacau lagi tafsirannya karena kelompok kata bagian barat yang diterangkan oleh kelompok kata waktu Indonesia sulit dipahami maknanya. Dalam hal itu terjadi pembalikan urutan diterangkan-menerangkan.

Sehubungan dengan hal tersebut, Pusat Bahasa menganjurkan agar masyarakat pemakai bahasa Indonesia untuk tetap menggunakan ungkapan yang lazim dan benar menurut kaidah bahasa Indonesia. Dengan demikian, di dalam hal pembagian (wilayah) waktu di Indonesia, penggunaan singkatan yang benar adalah WIB (bukan BBWI).
(sumber Pusat Bahasa)

* Guru SDBI AL Hikmah Surabaya
Selengkapnya......

Selasa, 18 Agustus 2009

Persembahan Al Hikmah untuk Bangsa

“Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita…”

Dengan diiringi lagu di atas, para siswa SD Al Hikmah dengan antusias mengikuti acara-acara khas tujuh belasan di SD Al Hikmah. Acara diawali dengan kirab kemerdekaan. Yang berbeda kali ini adalah penyerahan bekdera merah putih oleh kepala sekolah kepada M. Rizki Aulia Bisri (Kiki), yang merupakan duta bangsa Indonesia untuk mengikuti Inteternational Mathematics Contest di Singapura yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 2009.

Pada kesempatan itu kepala sekolah berpesan agar Kiki bisa mengharumkan nama bangsa sebagai bentuk terima kasih atas jasa para pahlawan. Setelah itu kirab yang diikuti seluruh siswa dan guru SD Al Hikmah yang memapakai pakaian ala pahlawan dilepas oleh kepala sekolah.
Pekik “MERDEKA” sahut-menyahut saat acara kirab perjuangan tanggal 15 Agustus. Dengan atribut merah putih, hiasan kepala warna-warni, serta spanduk dengan berbagai kalimat pengobar semangat para siswa, guru, dan karyawan berjalan di lokasi sekitar sekolah dengan diiringi lagu-lagu dan yel-yel perjuangan dari pengeras suara yang diangkut oleh abang becak. Dengan demikian jadilah hari itu hari yang penuh dengan nuansa perjuangan karena setelah acara kirab dilanjutkan lomba menyanyikan lagu Indonesia raya, membaca teks proklamasi, dan pancasila.
Pada acara puncak, yaitu waktu Upacara peringatan detik-detik proklamasi yang bertempat di lapangan bola SD Al Hikmah Surabaya siswa-siswi kelas 4, 5, dan 6 beserta ustad dan ustadzah mengikuti acara dengan khidmad. Pemimpin upacara, yaitu Antok kelas 6B memimpin upcara dengan tegas dan berwibawa. Panas dan terik matahari itu tidak menghalangi kekhidmatan acara itu. Ini bisa dilihat dari antusiasme peserta uapacara yang semuanya datang tepat waktu dan tidak ada yang absen.
Saat acara puncak acara HUT kemerdekaan RI ke-64 itu, kepala sekolah SD, Drs. Gatot Sulanjono menegaskan bahwa untuk menunjukkan bahwa kita mewarisi semangat para pahlawan adalah dengan belajar dan bekerja. Secara khusus Bapak kepala sekolah berbicara tentang Al Hikmah di masa yang akan datang tidak hanya diperhitungkan di kancah nasional, tetapi juga di perhitungkan di kalangan internasional sebagai wujud persembahan Al hikmah Untuk Bangsa Indonesia. MERDEKA…! (bee)

Selengkapnya......

Rabu, 12 Agustus 2009

Sukses Ujian, Prestasi Sekolah atau LBB?*

Mohammad Efendi **

Coreng hitam menghias muka pendidikan kita awal Mei ini. Pasalnya, seperti yang ramai diberitakan di media, beberapa sekolah gagal meluluskan siswanya. Bahkan ada sekolah di belahan timur Pulau Jawa yang gagal 100 persen. Setelah dirunut, ternyata siswa lebih mempercayai kunci jawaban palsu untuk diisikan di LJK (Lembar Jawaban Komputer), dibanding dengan hasil olah pikir mereka sendiri. Menyedihkan!
Padahal sekolah tersebut tergolong favorit. Solusi yang ditawarkan BSNP pun aneh, dan keluar dari rel. Mengapa demikian? Karena ujian ulang yang akan mereka gelar untuk siswa yang terbukti langcung tersebyut jelas-jelas tak ada dalam POS (Panduan Pelaksanaan Operasional) ujian. Jelas, hal ini menjadi perdebatan marak. Seperti yang kita ketahui, kelulusan SMP dan SMA sangat bergantung kepada hasil Unas mereka. Dan berpatokan pada ketetapan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), tahun ini, angka standar kelulusan sebesar 5,50.

Sementara itu, bagi siswa SD, kelihatannya tak banyak hal yang merintangi untuk dapat lulus. Karena kelulasan masih di tangan sekolah masing-masing. Bahkan boleh jadi, hasil UASBN pun masih bisa dinego sebagai syarat kelulusan. Karena, seperti penuturan Kepala Dispendik Kota Surabaya, Bapak Sahudi, standar komitmen kelulusan siswa SD metropolis ini “hanya “ 2,81. Angka itu didapat dari rata-rata standar kelulusan yang disetorkan sekolah kepada dinas pendidikan. Dan uniknya, meskipun nilai tersebut tergolong minim, itu pun masih bisa dilanggar oleh sekolah yang ngotot siswanya lulus.. “Sekolah boleh melanggar standar komitmen kelulusan tersebut, tapi harus melaporkan kepada kami,” ujar mantan kepala SMAN 15 itu.

Seiring dengan itu, guna meraih kelulusan maksimal, bulan-bulan lalu, sekolah telah mendesain pembelajaran untuk sukses ujian. Usaha gigih yang dipakai manajemen sekolah pun bermacam-macam. Mulai dari pematangan penguasaaan materi pelajaran, sampai mengarah ke spiritual. Les-les sepulang sekolah, atau tambahan jam pelajaran menjadi program yang wajar ada. Bahkan, jika tak ada, ada kalanya wali murid menanyakannya keseriusan sekolah dalam mempersiapkan anaknya untuk ujian. Demikain pula dengan upaya penguatan ruhani lewat shalat malam dan istigosah bersama. Luar biasa!

Namun, benarkah hajat tahunan ini hanya menjadi milik sekolah? Tentu tidak. Ada pihak lain yang turut “memanfaatkan” rutinitas ini untuk mengatrol bisnis mereka, yaitu LBB (Lembaga Bimbingan Belajar). Bagi LBB, momen ujian dimanfaatkan sebagai salah satu poin yang digemborkan ke orang tua untuk membelajarkan anaknya di LBB tersebut. Mereka menawarkan solusi bagi kekhawatiran orangtua akan prestasi belajar anaknya. Mudahnya, seolah mereka bicara, “Jika ingin sukses ujian, ikutlah bimbingan di LBB kami.” Bahkan berdasar penuturan beberapa teman, sudah bukan hal baru jika sekolah merangkul LBB untuk mengisi bimbingan pelajar di sekolah mereka. Jika sudah demikian, berati ada dua pemain yang menjadi katalis peningkatan kemampuan siswa: guru sekolah dan LBB.

Sehubungan dengan itu semua, wajarlah bila kemudian muncul pertanyaan. Bila anak sukses ujian, sedangkan sang anak ikut bimbingan belajar, itu prestasi siapa? Prestasi sekolah atau LBB? Atau semata-mata prestasi siswa? Inilah pertanyaan yang mungkin perlu direnungkan kembali. Bukan untuk menggugat sekolah atau LBB. Tapi lebih semacam upaya mempertanyakan peranan sekolah dalam melaksanakan amanah dalam mendidik siswa. Karena, bagimanapun juga, institusi inilah yang hendaknya didorong untuk mendidik siswa sesuai dengan fungsinya. Jangan sampai keberadaannya termarginalkan oleh LBB.

Tentu menjadi kebanggaan bagi sekolah bila ada siswanya yang meraih nilai UAN tertinggi di wilayahnya. Karena itu merupakan poin positif dalam melambungkan nama sekolah. Namun, benarkan prestasi itu muncul semata-mata sebagai buah upaya sekolah? Ini yang perlu dipertanyakan. Karena bukan tidak mungkin, ada faktor lain yang justru dominan mengalir di dalamnya. Misalnya, dengan nambah jam belajar di luar kelas. salah satunya lewat privat atau LBB. Inilah yang mestinya direkam secara kritis oleh wali murid di Metropolis. Hingga mereka benar-benar bisa memilih sekolah yang sesuai dengan anaknya. Bukan hanya berdasar kata orang, atau label favorit atau nonfavorit saja.

Luar biasa memang, penetrasi LBB ke dunia pendidikan sekarang ini. Kemunculannya yang dulu hanya dianggap sebagai teman belajar siswa, kini menguat menjadi instansi pendidikan itu sendiri. Ada beberapa nama LBB yang kini hadir di Surabaya. Ada yang memang hanya ada di Surabaya saja, namun ada pula yang tergolong LBB besar dan ternama. LBB tersebut telah sukses menjalarkan tangannya di kota-kota tanah air ini. Salah satunya Primagama yang familiar dengan wajah Rano “si Doel” Karno.

Guna menancapkan taringnya di sebuah sekolah, mereka tak segan-segan mengadakan try out gratis. Dan arahnya bisa ditebak, kegiatan ini ibarat kail yang akan menghasilkan bondongan siswa yang ikut nambah kaweruh di tempatnya. Dan jika siswa didikan mereka berhasil diterima di sekolah atau perguruan tinggi ternama (ITS, Unair, UGM, dll), mereka akan memampangkannya di depan tempat bimbingan. Mungkin sebagai pembakar spirit, atau menunjukkan prestasi yang telah dicapai.

Secara pragmatis, kehadiran LBB dan semacamnya dapat menjadi partner sekolah atau orang tua untuk meningkatkan prestasi anak didiknya di sekolah. Jika targetnya hanya kognitif saja. Misalnya sukses UAN, masuk perguruan tinggi, dll. Namun secara menyeluh, terdapat perbedaan mendasar antara keduanya. Yaitu, sekolah tak boleh hanya mengurusi kognitif, tapi juga harus mengembangkan psikomotor dan afektif siswa. Di lain pihak, biasanya ranah psikomotor dan afektif tak diurusi di lembaga-lembaga tersebut. Padahal, dua aspek itulah yang menjadi semangat KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang berganti nama dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).

Masalah pengelolaan pendidikan, dewasa ini memang tak lebas dari penggunaan jaringan. Maksudnya, perlu membangun jaringan kerja sama dengan lembaga-lembaga sejenis yang memiliki tujuan sama. Hingga sekolah yang bersangkutan mampu mengukur prestasi anak didiknya di antara siswa-siswa sekolah yang lain. Hingga, istilah jago kandang tak muncul di sekolah tersebut. Sekat-sekat tembok sekolah perlu disingkirkan sejauh mungkin. Sekolah lewat manajemen terukur harus mampu menempatkan dirinya sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional yang memiliki tujuan sama dengan sekolah-sekolah lain. Jadi, jangan hanya bertarung sendirian. Tapi gunakan kemampuan kebersamaan untuk menyelesaikan masalah pendidikan. Apakah hanya dengan sesama sekolah saja kerja sama itu dibangun? Tak ada salahnya juga dengan LBB. Asalkan, tetap terkontrol.

Berkaitan dengan siswa yang ikut belajar di luar sekolah, secara umum, sikap sekolah di Surabaya cukup beragam. Ada sekolah yang membiarkan, bahkan merasa terbantu. Namun ada juga yang memohon orangtua untuk tetap memercayakan masalah pendidikan anaknya kepada sekolah. Fenomena kedua ini biasanya didasari pada tingkat kelelahan fisik dan emosi siswa yang telah belajar seharian di sekolah. Terutama sekolah berjenis full day. Lagi pula, tak semua masalah pelajaran di sekolah dapat diobati dengan les privat atau ikut LBB. Bisa jadi ada aspek lain yang menyebabkan anak kurang memahami pelajaran.

Namun, yang lebih penting dari itu semua adalah, sekolah harus mampu menunjukkan prestasi secara independen. Maksudnya, prestasi yang diperoleh sekolah haruslah benar-benar jerih payah sekolah. Bukan karena siswa belajar di tempat lain, lalu membuat harum nama sekolah.

efendialhikmah@yahoo.co.id

* Tulisan tersebut dimuat di Radar Surabaya, 8 Juni 2009
** Guru SDBI Al Hikmah Surabaya

Selengkapnya......

Jumat, 07 Agustus 2009

KEBUN SAYUR KELAS 5 SD ALHIKMAH

Ada pemandangan berbeda hari kamis minggu ini (6/8) di kelas 5. Ust. Irsyad yang biasanya selalu rapi dan kemana-mana membawa buku untuk mengajar, hari ini beliau memakai sandal, pake topi, celana dan lengan baju disingsingkan, dan tak lupa sebuah cangkul dipundak beliau. Dibelakangnya diiringi barisan siswa – siswi kelas lima yang tak kalah kompaknya, bersandal serta membawa bermacam-macam alat berkebun. “Ada apa ini?” tanya beberapa wali murid heran. Rupanya dalam 2 jam (13.00 – 15.00) SD Al Hikmah berubah menjadi lahan berkebun.
“Ya, hari ini memang waktunya Gardening untuk kelas 5” ujar Ust. Irsyad selaku ketua pelaksana Gardening tersebut. “Acara ini mengajak siswa – siswi kita merasakan bagai mana rasanya menjadi petani. Mulai dari menyiapkan media (lahan/tanah) pembenihan, menanam, merawat, hingga memanen dan mengolah hasil kebun nantinya” lanjut ust. Irsyad.
Kegiatan ini melibatkan seluruh siswa-siswi dan ustadz dan ustadzah kelas 5. Semua bahu-membahu mempersiapkan media tanam dengan mencampur tanah dan pupuk kandang kering, menyiram air, memberi benih dan perawatannya nanti. Pada awalnya banyak siswa dan siswi merasa enggan berkotor-kotor dengan tanah dan pupuk kandang. Namun setelah diperagakan cara mengolah tanah dan memastikan semua aman oleh Ustd. Yani dan Yuni (Duo Y5), mereka tidak merasa takut dan enggan lagi untuk mencoba berkebun. “Tadinya memang jijik dan takut kotor , tapi setelah dicoba ternyata ngga apa – apa, malah asyik bisa main air sama tanah sambil belajar” ujar Fiqar siswa kelas 5A. untuk perawatannya nanti sudah terjadwal piket menyiram dan merawat bergantian perkelompok. Setiap tanaman juga diberikan nama tiap tiap kelompok. Jadi selain piket menyiram kelompok juga bertugas menjaga benih bisa tumbuh hingga siap dipanen.
“Dalam Gardening kali ini kami mengangkat tema sayur sayuran. Tema ini diambil agar tertanam kegemaran anak-anak pada sayur sayuran dengan memberikan pengalaman bercocok tanam, sehingga merekan tidak ragu lagi untuk mengkonsumsi sayur sayuran” Ujar Ustd. Yuni Korjen Kelas 5.Untuk itu tanaman yang kita tanam kali ini tomat, lombok (red. cabe) sawi, terong dan bayam. “Sayang kami kehabisan benih timun, padahal ada rencana buat rujak gobet, jadi gahal deh… ha.. ha..ha..” cloteh Ustd. Muniroh pecinta rujak gobet. mudah – mudahan acara gardening kali ini bisa berjalan lebih sukses dari tahun tahun yang lalu. Insyaallah setelah lebaran nanti kelas 5 bisa Panen Raya. Mohon do’a restunya ya! (amin). Bravokelas 5.
(Iwan)
Selengkapnya......

kontak via email : sdalhikmah@gmail.com