Visi & Misi

Visi
Menjadikan siswa berakhlak karimah, berprestasi akademik optimal.

Misi
Menjadikan lembaga pendidikan Islam yang layak dan mudah di contoh.

Dengan senantiasa meneladani Rasulullah Saw, mari tingkatkan terus semangat berbudi sekaligus berprestasi internasional

Jumat, 15 Mei 2009

Gifted saat Bayi

Alex Murgito *)

Barang kali anak kita sekarang sudah besar, sudah masuk SD, masuk SMP, atau masuk SMA. Jika demikian, memang agak terlambat untuk mengetahui hal ini karena penelitian ini menggunakan objek anak kurang dari satu tahun dan (mungkin) sesuai jika digunakan untuk dasar pendidikan anak yang berusia kurang dari satu tahun. Tidak ada salahnya anda membaca lagi sehingga bisa anda tularkan kepada teman, saudara, atau mungkin untuk anda sendiri di lain hari.

Ini adalah hasil penelitian tentang kecenderungan anak gifted, yaitu anak yang tingkat kecerdasannya di bawah genius, namun di atas superior.
Menurut DR. drg. Julia Maria van Tiel, Doktor bidang Medical Antropologist serta Nasrullah Idris, bidang studi: Reformasi Sains Matematika Teknologi, anak yang memiliki kemampuan otak sangat besar dalam waktu singkat. Bagi para ilmuwan, mereka bisa merupakan sumber entri point dalam penelitian dan pengembangan. Gilirannya sedikit-banyak meringankan proses pencarian data untuk memperkuat legitimasi karya ilmiah. Biasanya mereka memiliki ingatan fotografis yang kuat yang bisa dituangkan dalam gambar yang bagus, tetapi munculnya sekehendak sendiri, yang juga akan membimbing perilaku mereka ke depannya.
Mereka adalah benih-benih bangsa yang sangat menjanjikan. Dengan perhatian yang tepat. Biarkan sajalah tubuh secara alami, tidak dipaksa, tidak distimulasi, tetapi diikuti perkembangannya, dan diawasi agar tindakannya tak berbahaya - maka potensi yang luar biasa itu bisa keluar. Sebaliknya, jika sejak awal mereka mendapat tekanan obat-obatan dan metoda pemaksaan seperti dalam terapi yang dilakukan pada anak yang mempunyai keterbelakangan mental, sulit membayangkan akan seperti apa jadinya.

Pada periode bayi, 0 s.d. 2,5 tahun, masih terlalu dini untuk memberi label sebagai anak gifted, namun kepadanya diberi label lain yaitu anak dengan lompatan perkembangan. Pada periode tersebut terdapat beberapa gejala yang dapat menunjukkan bahwa kelak anak tersebut akan berkembang menjadi anak gifted. Gejala-gejala yang nampak pada anak tersebut adalah:
• Lebih besar dan lebih berat dari rata-rata anak yang lahir
• Tak sabaran
• Cepat dalam perkembangan membalas senyuman dan melihat ke sekililing
• Waktu tidur yang sedikit
• Sangat alert
• Sangat sensitive
• Perkembangannya cepat
• Mempunyai pola yang tetap dan teratur
• Seringkali sangat tergantung, seringkali menuntut perhatian lebih
• Mempunyai daya ingat yang kuat

Untuk perilaku tertentu, menunjukkan lebih cepat berkembang dibanding rata-rata (tergantung pada minggu atau bulan tertentu pada usia bayi):
Motorik halus:
• Melihat ke tangannya
• Memainkan kedua tangannya di depannya
• Mengambil blokje
• Mengambil blokje kedua dengan tangan yang lain
• Mengambil dan memasukkan blokje dari kotak
• Bermain memberi dan menerima

Motorik kasar:
• Bisa stabil jika dilepas
• Merangkak dengan perut di lantai
• Menegakkan badan
• Merambat
• Berjalan Jalan

Komunikasi dan perkembangan personalitas
• Membalas senyuman
• Bereaksi terhadap namanya
• Mengatakan dada, baba, gaga
• Bereaksi jika dipanggil namanya
• Melambaikan tangan da. . . da . . .
• Berbicara dengan dua kata yang mempunyai makna
• Memahami beberapa kalimat yang digunakan sehari-hari
• Dapat menolong diri sendiri
• Bermain dengan anak lain
• Dapat diberitahu/perintah
• Mempunyai inisiatif

Catatan:
Tidak semua anak gifted mempunyai gejala yang lengkap seperti di atas di atas, namun secara umum memiliki gejala yang banyak dari daftar di atas. Anak-anak yang lahir premature pun nantinya dapat berkemungkinan adalah anak-anak gifted.
Dari laporan para orang tua yang anaknya menjadi objek penelitian, umumnya anak-anak ini pada minggu pertama sudah dapat membalas senyuman. Mata mengikuti gerakan juga sangat cepat berkembang. Banyak dari bayi-bayi ini yang mempunyai jam tidur sedikit. Pada dasarnya banyak yang menggambarkan anaknya merupakan anak yang hiperaktif, yang menuntut ekstra energi dari orang tuanya.
Bayi-bayi ini mempunyai perkembangan merangkak dan berjalan yang lebih cepat dari jadwal rata-rata. Umumnya berjalan sebelum usia satu tahun.
Yang jelas bila dibandingkan dengan perkembangan rata-rata akan sangat nampak bahwa bayi-bayi ini mempunyai lompatan perkembangan.
Perilaku overaktif nampak sebagai akibat dari perkembangan sistem neuromuskularnya, yang telah diketahui bahwa perkembangan sistem persyarafan anak-anak gifted akan memakan waktu lebih lama daripada rata-rata anak. Karenanya juga anak-anak ini mempunyai sistem pancaindera yang sangat sensitif, misalnya terhadap ransang raba, cahaya, dan suara.
Di samping itu, ketahanan tubuhnya juga sangat sensitif dan menjadi rentan. Yang perlu dijelaskan juga adalah bahwa sangat banyak anak-anak gifted yang mengalami alergi misalnya terhadap bahan pewarna dan penambah rasa.
Kebanyakan bayi akan membawa pengalaman dan kesan-kesannya turut dalam tidurnya. Bayi-bayi ini akan lebih tenang jika dikembalikan pada pola-pola yang teratur dan tertentu. Bila hal ini dilanggar maka anak-anak ini akan bereaksi terhadap situasi, marah dan selalu menangis.
Dalam kurva berat badan dan tinggi badan, perlu diamati seberapa jauh pertumbuhannya bila dibandingkan dengan rata-rata anak seusianya. Dalam pemeriksaan berkala dapat dilihat juga kapan anak-anak ini merangkak, berjalan dan seterusnya. Bila ia melebihi di atas rata-rata anak seusianya terutama perkembanga motorik dan kognitif, maka dapat diartikan bahwa bayi-bayi ini mempunyai lompatan perkembangan.

Help een hoogbegafde kind – de consultatiebureau en school arts, Landelijk
informatiecentrum hoogbegaafdheid, stichting Plato, Wateringan.2002.
(Bantulah anak gifted – panduan bagi dokter tumbuh kembang dan dokter sekolah, Pusat Informasi Keberbakatan Nasional, disebarluaskan oleh Stichting Plato, Wateringen, 2002)
Dan berbagai sumber website.

*) Guru SDBI Al Hikmah


Selengkapnya......

Selasa, 12 Mei 2009

Sehari Pengakuan Dosa

Dengan langkah tegap, Devan VA maju ke depan diselipi senyuman khas dirinya. Sesampai di depan teman-temannya, Ust. Coy menyodorkan mix padanya. Raut muka menjadi merah, air matanya tumpah.
Tak kuat rasanya seorang Devan yang kesehariannya tipe siswa pemberani dank eras untuk saat ini dia begitu lemah dan menyerah. Hari itu rupanya hari yang mengharukan bagi diri seorang Devan. Dia menumpahkan segala keluh kesah atas kesalahan dirinya yang telah 2 kali membohongi Mamanya. Devan ingin bertobat, meminta maaf dan tidak mengulangi kesalahan seterusnya. Peristiwa ini terjadi kemarin Kamis, 7 Mei 2009 pada saat kelas V melaksanakan kegiatan Jalasah Ruhiyah. Tema kegiatan kali ini adalah Birull Walidain Untuk Meningkatkan Prestasi Akademik. Acara ini di buka dengan sholat Dhuha, kemudian tausiyah yang disampaikan oleh Ust. Coy. Nah pada acara ini siswa kelas V dibuat larut dalam pengakuan dosanya terutama kesalahan-kesalahan mereka kepada kedua orang tuannya. Selanjutnya diputarkan Laskar Pelangi dan acara terakhir ditutup dengan renungan yang disampaikan oleh Ust. Zainal. Lagi-lagi siswa dibuat larut dalam pengakuan dosa. Dan terakhir mereka berlari berebut mencium orang tua mereka dan menumpahkan pengakuan dosanya kepada orang tua masing-masing. Semoga kegiatan ini tetap membuat sadar siswa agar selalu hormat pada orang tua yang implikasinya bisa membuat prestasi akademik meningkat, amin (r1d-one)
Selengkapnya......

Selasa, 05 Mei 2009

Melirik UKBI tuk Gantikan Unas bahasa Indonesia


Mohammad Efendi *)

Pernyataan Daniel M. Rasyid, pengamat pendidikan Surabaya, tentang model Unas Bahasa Indonesia bisa merusak kemampuan berbahasa siswa menarik untuk ditanggapi. Pernyataan tersebut muncul kisaran akhir tahun 2006. meski agal lama, namun hal tersebut tetap menarik untuk dijadikan bahan renungan. Terutama pada bulan-bulan ini, Unas dan Uasbn sedang berlangsung.

Menurut beliau, tes Unas, khususnya pelajaran Bahasa Indonesia, belum layak untuk disebut mewakili kemampuan berbahasa siswa secara menyeluruh. Karena model soalnya monoton pilihan ganda saja.
Saya teringat ucapan Shoim Anwar di sebuah training. Secara bergurau, sastrawan Surabaya ini mengomentari model soal pilihan ganda dan isian sebagai soal “eceran”. Mengapa? Karena jawabannya sedikit-sedikit, mirip orang mencicil kredit. Hingga kemampuan utuh peserta tak dapat diketahui.
Seperti yang kita ketahui, tes Unas yang selama ini diadakan, dilihat dari sudut pandang kebahasaan, hanya bermain pada sektor membaca dan menulis saja. Padahal, aspek-aspek kebahasaan itu ada empat: mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Oleh karena itu, representasi tes akhir yang baik adalah yang mampu mewadahi itu semua, bukan parsial.
Mungkin, alat tes yang tepat, yang dimaksudkan beliau adalah UKBI (Uji Kemampuan Berbahasa Indonesia). Sekedudukan dengan TOEFL (Test of English for Foreign Language), UKBI bertujuan mengetahui tingkat kemampuan berbahasa seseorang. UKBI sebagai sarana pengujian kemampuan berbahasa Indonesia, telah memperoleh pengukuhan Mendiknas dengan surat keputusan Mendiknas Nomor 152/U/2003. Hasil tesnya berupa pemeringkatan mulai dari tingkat istimewa sampai terbatas. Tingkatan ini disesuaikan dengan nilai yang diperoleh peserta.
Saya berkeyakinan, bahwa penguatan kebahasaan nasional bisa dimulai dengan memberikan porsi yang proporsional dalam kurikulum pendidikan. Selama ini, menurut saya, Bahasa Indonesia yang tersampaikan dalam jalur edukasi seolah-olah mengalami stagnasi. Tak ada kemajuan yang signifikan. Meski telah beberapa kali kurikulum berganti, termasuk kurikulum Bahasa Indonesia, tak ada beda menonjol aplikasinya di kelas antara kurikulum satu dengan lainnya. Seringkali roh pembelajaran yang diharapkan muncul malah mandeg pada proses pembelajaran di kelas. Ranah-ranah kemampuan berbahasa yang tercakup semuanya dalam pedoman materi, sering kali hanya muncul satu, atau dua saja. Dari empat kemampuan berbahasa: mendengar, berbicara, membaca, dan menulis, sering kali yang teropeni cuma membaca dan menulis saja.
Karakteristik pembelajaran Bahasa Indonesia, yang mengharuskan guru memberikan porsi seimbang pada masing-masing ranah dalam pembelajaran masih belum jalan. Padahal, ini telah disosialisasikan dalam pengenalan Kurikulum Bahasa Indonesia sistem KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran). Lebih-lebih jika sampai pada tataran evaluasi. Model ujian pencil and paper test (tes tulis) masih meraja. Dengan kondisi seperti ini, dapat dipastikan, betapa merananya ranah-ranah yang lain, yang tak dapat dinilai hanya dengan pencil and paper test.
Dengan kenyataan sedemikian itu, pantaslah kiranya bila selalu saja ada kesenjangan antara mutu ideal lulusan dengan kenyataan mutu yang dihasilkan. Ambil contoh, sejak kelas 6 SD sampai SMA, siswa telah mendapatkan materi pidato. Namun, apa kenyataannya? Hanya segelintir saja lulusan yang memenuhi harapan itu. Selebihnya, meski hanya sekadar maju ke depan panggung saja masih maju-mundur. Contoh lainnya, kemampuan menulis lulusan SMA kita. Kenyataan bahwa mereka telah menerima materi menulis (baik surat, laporan, cerita, sinopsis, karangan) di bangku belajar, seolah tak berbekas kala mereka disodori kertas untuk menghasilkan tulisan bermutu. Inilah gambaran umum ketidakberhasilan mesin pengajaran sekolah menerjemahkan kurikulum dalam pembelajaran.
Hingga, keidiealan kurikulum Bahasa Indonesia yang diharapkan mampu menerobos kesulitan-kesulitan siswa dalam berbahasa, tak terbukti di ujung akhir tahun pelajaran. Sedikit banyak, kegagalan ini merupakan sumbangsih orientasi tes akhir yang selalu berwujud tes tulis. Hingga, guna mengejar target nilai tinggi di Unas bahasa Indonesia, keterampilan berbicara dan mendengar tak terlatih dengan baik. Coba saja perhatikan aktivitas siswa kelas 3 SMP/SMA pada semester kedua. Siswa dijejali dengan prediksi soal-soal Unas. Kegiatan pembelajaran praktis hanya bertumpu pada latihan mengerjakan berbagai model soal. Aspek kreatif kebahasaan tak terurus.
Dalam skala luas dan berkelanjutan, ini akan berdampak buruk pada kualitas SDM Indonesia. Padahal, potensi bahasa Indonesia amatlah subur dalam blantika kebahasaan dunia. Coba kita lirik data pengguna bahasa-bahasa di dunia. Bahasa Indonesia (yang disebut Malay-Indonesian) menempati sepuluh besar. Bahkan melebihi bahasa bintang sepak bola Zinedin Zidan, Prancis. Secara berurutan, sepuluh besar itu adalah bahasa Mandarin (digunakan 1,075 miliar manusia), Inggris (524 juta), Hindustan (496 juta), Spanyol (425 juta), Rusia (275 juta), Arab (256 juta), Bengali (215 juta), Portugis (194 juta), Malay-Indonesian (176 juta), Prancis (129 juta). Dengan pengguna bahasa sebesar itu, sayang proses pendidikan hanya mampu menjadikan mereka berkemampuan bahasa pas-pasan, dan tak kreatif berbahasa.
Bisakah dijadikan jawaban, bila Unas Bahasa Indonesia digantikan UKBI? Di tengah pro kontra Unas yang masih kerap terdengar, ide ini boleh jadi menjadi satu alternatif. Bahkan boleh dikatakan, ini adalah tes yang ideal. Karena mengukur empat sektor kemampuan berbahasa siswa. Bahkan, selain jalan untuk membiasakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di dunia akademis, ini akan memperkuat identitas bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
Namun yang pasti, ada pertanyaan yang perlu mendapat jawaban “sudah” jika langkah ini diambil. Pertama, sudahkan siapkah perangkat pembelajarannya? Hingga saat ini, perangakat pembelajaran masih menjadi kendala di beberapa sekolah. Terutama sekolah-sekolah pinggiran. Padahal, ini amat urgen keberadaannya untuk menyukseskan belajar siswa. Pelajaran bahasa Indonesia, yang menaungi empat ranah kebahasaan, membutuhkan media-media pendukung pembelajaran.
Kedua, sudahkan alat tes memuat segenap Kompetensi Dasar yang dipelajari siswa? Saya pikir, suatu tantangan besar bagi pembuat alat tes jika ingin mengukur kemampuan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis siswa. Tantangan ini berhubungan dengan kemampuan ia memformat alur tes yang memuat Kompetensi Dasar, sesuai kurikulum KTSP. Misalnya, pada tes mendengar, mereka harus menyiapkan materi (pengumuman, cerita rakyat, berita, dll.) untuk diperdengarkan kepada peserta tes. Pada materi berbicara, mereka meramu alur tes yang mengaruskan siswa menunjukkan kemampuan berbicaranya, semisal pidato, menanggapi persoalan aktual, bercerita, dll. Pada materi membaca, mereka menyiapkan banyak bahan bacaan: cerita, berita media cetak, iklan, poster, dll. Sedangkan saat sesi menulis, mereka menyiapkan psikologis siswa untuk menghasilkan cerita pengalaman, naskah pidato, puisi, atau lainnya.
Ketiga, cukupkah waktu yang ada? Saya yakin, tidak cukup 2 atau 3 hari jika ingin menguji kemampuan berbahasa siswa secara keseluruhan. Selain karena tes meliputi empat kemampuan berbahasa, Kompetensi Dasar yang dipelajari siswa, yang tentunya mesti diujikan pun banyak ragamnya.
Selain pilihan pertama di atas, dapat juga tes UKBI ini berdiri sendiri, terpisah dari Unas. Artinya, siswa SMP dan SMA yang hendak lulus dipersyaratkan mengikuti tes UKBI. Dengan demikian renik-renik yang berhubungan dengan penyiapan alat tes dapat dipangkas, karena penangung jawab kini berpindah pada Pusat Bahasa (Balai Bahasa) untuk membantu menyukseskan program ini.
Namun, adalah suatu kenaifan besar jika siswa diharuskan lulus tes Kemampuan Bahasa Indonesia, sedangkan gurunya tidak. Oleh karena itu urut-urutan yang adil adalah dimulai dari pengajarnya dulu. Dosen, serta guru di jenjang pendidikan tinggi, menengah, dan dasar mesti mengikuti tes ini lebih dulu. Dari sisi hukum, kiranya ini menjadi satu langkah taktis untuk mewujudkan implementasi Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2006 tentang Sistem Pendidikan nasional. Pasal 33, yang menjelaskan tentang bahasa pengantar pembelajaran menyebutkan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar utama. Sedangkan bahasa lain, yaitu bahasa daerah dan asing digunakan secara situasional. Berpedoman pada aturan tersebut, tak ada kendala jika tes UKBI diselenggarakan bagi semua kalangan pendidik. Karena tentu harapan penggunaan bahasa Indonesia yang diharapkan oleh undang-undang tersebut bukan sekadar “asal bahasa Indonesia”, tapi bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dan tes UKBI, mendukung ketercapaian tujuan itu.
Setelah tahap pertama tadi terlaksana, baru berlanjut pada siswa. Pada tataran perguruan tinggi, UKBI dapat dijadikan sebagai salah satu syarat kelulusan. Mungkin kedudukannya hampir sama dengan TOEFL yang kini mulai menjadi salah satu syarat kelulusan di perguruan tinggi. Baru kemudian dipertimbangkan untuk diterapkan secara struktural di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Demi suatu kebaikan, tak ada yang tak mungkin untuk dilakukan. Guna mewujudkannya, tinggal merangkai jejaring antara Pusat Bahasa (Balai Bahasa) dan Depdiknas (Dinas Pendidikan).

*)Guru SDBI Al Hikmah Full-day School Surabaya
efendialhikmah@yahoo.co.id


Selengkapnya......

Jumat, 01 Mei 2009

Cerdas dan Rajin

Kakek meletakkan surat kabar yang ia baca, kemudian menatapku melewati kaca mata plusnya yang tebal.

"Apa itu cerdas?" tanyanya.
"Pandai berpikir." jawabku.
Kakek mengangguk. "Lalu apa itu rajin?"

"Suka bekerja." jawabku lagi.
"Kemarilah." Ia melambaikan tangan agar aku duduk di sisinya. Aku mendekat dan duduk di kursi di sampingnya. Melihat dari dekat wajah kakek yang diukir guratan usia tua, dibingkai sepasang mata teduh yang menyimpan selaksa kebijaksanaan.
"Nah, sekarang katakan, apa yang kau naiki kemarin waktu menuju ke rumah kakek?"
"Mobil." jawabku.
"Benar, mobil. Apa yang membuatnya bergerak?" tanya kakek
"Mm... Roda." Jawabku.
"Apakah roda hanya dapat melaju lurus ke depan?" tanya kakek lebih lanjut.
Aku menggeleng. "Tidak, roda dapat berbelok-belok. "
"Mengapa demikian?"
"Karena ada kemudinya." Jawabku lagi. Masih tak memahami apa hubungan semua ini dengan pertanyaanku tadi.

Kakek tersenyum.
"'Roda' adalah 'rajin', karena ia selalu bergerak. Itulah kewajibannya, pekerjaannya, tugas yang harus selalu ia lakukan. 'Kemudi' adalah 'cerdas', karena ialah yang berpikir, menentukan kemana roda harus berbelok, ke kanan, atau ke kiri."
"Berarti 'cerdas' lebih hebat, karena tanpa kemudi, roda tak dapat mengerti kemana harus mengarahkan lajunya!" Aku berseru.

"Begitukah? Jika tak ada roda apakah ia akan tetap hebat? Apa jadinya kemudi tanpa roda, apakah mobil tetap dapat melaju?" Kakek bertanya.

"Berarti... 'rajin' lebih hebat. Walaupun tanpa kemudi, ia masih dapat melaju." sahutku ragu-ragu.
"Dan membiarkan mobilnya menabrak segala sesuatu, karena tidak mengikuti alur jalan yang berliku?"
Aku memandang kakek.
"Cucuku... Keduanya tidak akan menjadi hebat, bila berdiri sendiri-sendiri, terpisah, tanpa mau bergabung. Karena kehebatan itu hanya muncul bila mereka saling mendukung dan bekerja sama. Kemudi yang menentukan arahnya, dan roda yang melajukan mobil sesuai tugasnya."

Kakek menatapku, "Kau tahu, apa yang membuat keduanya bekerja bersama?"

Aku menggeleng.

"Pengemudi mobilnya. Yang mengatur kemudi dan roda agar saling mendukung dan berjalan bersama. Bagaimana laju mobilmu, halus atau kasar, menabrak atau lancar, tergantung siapa yang duduk di tempat itu." jawab Kakek.

"Ia adalah hatimu." Telunjuknya terarah ke dadaku.

"Yang mengatur lajunya langkahmu. Dengannya kau memilih, apakah hanya menjadi cerdas,
atau hanya menjadi rajin, atau memutuskan mendudukkan keduanya bersisian dan saling melengkapi satu sama lain.

Secerdas apapun seseorang, sebesar apapun idenya, tak akan berguna tanpa kerja keras yang mewujudkannya menjadi nyata.
Serajin apapun seseorang, bila itu dilakukan tanpa pemikiran, hasilnya hanya akan menjadi sia-sia."
Kakek menatapku dengan bijak.

"Jadi, menurutmu, mana yang lebih hebat, menjadi cerdas atau menjadi rajin?"

"Menjadi keduanya." Kataku mantap, dengan senyum lebar membalas senyumnya.


Selengkapnya......

Kamis, 30 April 2009

Cincau di Lantai 2, Ada Apa ?

Seluruh siswa di jenjang kelas 2 dengan membawa berbagai jenis makanan dari rumah duduk rapi di lantai 2 gedung Baitul Ilmi sejak pukul 13.00 Kamis (30/4). Mereka bersama-sama bernyanyi dan bersuka cita dalam kegiatan Pembukaan Tematik Makananku Sehat Tubuhku Sehat.
Kegiatan tematik ke-3 ini secara resmi dibuka oleh Ust. Bambang, Waka Kurikulum SDBI Al Hikmah. Dalam acara pembukaan dihadirkan dr. Wuri (dokter UKS) yang menjelaskan secara gamblang tentang makanan sehat. Makanan sehat adalah makanan yang bebas dari pengawet, pewarna, msg, dan bahan-bahan kimia lain yang dapat merusak tubuh.
Salah satu acara yang menarik dalam pembukaan ini adalah siswa-siswi diajak untuk belajar bagaimana membuat minuman sehat tanpa bahan pengawet. Ustadzah Wijana mengenalkan kepada seluruh siswa tentang bagaimana membuat es Cincau Asli. Perwakilan dari siswa mendemonstrasikan di depan. Di penghujung acara, setiap siswa dapat menikmati Es Cincau yang memang telah dipersiapkan sebelumnya. Mereka merasakan bagaimana nikmatnya Es Cincau yang sehat.
(@hmadelh@)
Selengkapnya......

Food Combining

Food Combining atau Kombinasi makanan serasi (KMS) adalah metode pengaturan asupan makanan yang diselaraskan dengan mekanisme alamiah tubuh, khususnya yang berhubungan dengan sistem pencernaan. Efek pola makan ini meminimalkan jumlah penumpukan sisa makanan dan metabolisme sehingga fungsi pencernaan dan penyerapan zat makanan menjadi lancar dan pemakaian energi tubuh lebih efisien.

Prinsip KMS sebagai berikut :1. Mendayagunakan fungsi sistem pencernaan dengan cara menyesuaikan apa yang dimakan dengan kebutuhan Asam-Basa dan siklus alamiah tubuh agar metabolisme seimbang
2. Mengoptimalkan masukan dan penyerapan zat gizi dengan cara mengkonsumsi makanan yang serasi saja setiap kali makan.
Asam-Basa tubuh seimbangKeseimbangan asam-basa jaringan tubuh dan darah manusia harus berada pada pH 7,3-7,5 agar tetap sehat dan berfungsi secara optimal. Di atas pH 7,8 atau di bawah pH 6,8 akan menimbulkan gangguan metabolisme, yang pada akhirnya juga gangguan pada kesehatan. Makanan pembentuk asam mengandung lebih banyak mineral non logam, contoh ; makanan protein, lemak, biji-bijian (Beras, jagung, gandum, dll) termasuk produk olahannya, kecuali susu mentah, yogurt, kacang almond, ikan belanak. Makanan pembentuk basa mengandung lebih banyak mineral logam, contoh : buah dan sayuran kecuali tomat, umbi-umbian. Menu sehari-hari masyarakat zaman sekarang umunya sebagaian besar terdiri atas makanan pembentuk asam, misal : daging, ikan, telur porsinya lebih besar daripada sayur dan buah. Gejala awal tingkat keasamannya tubuh tinggi, al : sering sakit kepala, sinusitis, mudah alergi, pilek, batuk, sakit maag, kembung, sembelit, jerawat, bisul, kulit kusam, eksim, nafas & keringat bau, sering nyeri otot & persendian, lesu kronis, kelebihan BB.
Siklus tubuh alamiah
Setiap fungsi tubuh mempunyai irama biologis yang jam kerjanya tetap dan sistematis dalam 24 jam per hari. Irama biologis sistem pencernaan kita sbb :
 Siklus Pencernaan (12 siang-8 malam)Saat yang tepat untuk mengkonsumsi makanan padat karena pencernaan bekerja lebih aktif. Setelah pukul 8-9 malam sebaiknya tidak mengkonsumsi makanan padat.
 Siklus Penyerapan (8 malam-4 pagi)Saat untuk penyerapan, asimilasi, dan pengedaran zat makanan. Kurang tidur atau makan larut malam memboroskan energi dan mengganggu siklus ini.
 Siklus Pembuangan (4 pagi-12 siang)Saat tubuh melakukan pembuangan sisa makanan dan metabolisme. Pada saat ini kita sebaiknya tidak makan makanan berat & pada.
Apabila salah satu aktivitas siklus ini terhambat, maka aktivitas siklus berikutnya juga ikut terhambat.

Lima unsur zat giziDalam kombinasi menu seimbang unsur gizi dibagi menjadi 5, yaitu gula, pati, protein, asam dan lemak. Buah dan sayur merupakan satu-satunya kelompok makanan yang memiliki kadar air tinggi, nutrisi dan pembentuk sifat basa. Oleh sebab itu, porsi sayuran dan buah-buahan segar menempati persentase 60-70 % dari seluruh menu satu hari. Sedangkan yang 30-40 % dibagi menjadi protein, zat pati, dan lemak. Dengan demikian keseimbangan asam-basa di dalam tubuh tetap terjaga.

Komposisi menu dasar KMS (dalam 1 hari)Terdiri atas ;
• 1 menu protein + sayuran
• 1 menu zat pati + sayuran
• 1 menu buah-buahan

Contoh menu KMSBangun tidur :1-2 gelas air putih campur sedikit perasan jeruk nipis (tanpa gula)
Makan pagi (Pk. 05.30-11.30)
Aneka buah/jus buah (kecuali nangka, durian, apokat, pisang) tanpa gula sepanjang pagi/setiap 1-2 jam sekali, porsi sesuai ukuran lambung jenisnya harus bervariasi setiap hari.
Makan siang* (Pk. 12.00-14.00)Nasi + tahu/tempe + sayur asam + lalap mentah + sambal
Makan malam* (Pk. 18.00 – 21.00)Ayam goreng + sup sayur + rujak pengantin
Selingan sore (Pk. 15.00-16.00)Satu/dua buah pisang segar (tanpa digoreng/direbus) atau ¾ gelas susu kedelai/yogurt atau satu sendok teht madu alam murni
* Menu makan siang dan malam boleh saling bertukar tempat

Untuk membuang racun dalam tubuh pada pola makan KMS, juga dianjurkan melaksanakan puasa jus buah dan sayuran, artinya tidak makan yang lain hanya makan buah dan sayuran segar saja selama  2-14 hari tergantung kondisi tubuh dan tingkat keasaman dalam tubuh. Para pelaksana KMS ini masih diperbolehkan mengkonsumsi suplemen. Antara lain yang diperbolehkan ialah kapsul betakaroten, vitamin E, multivitamin, vitamin C, tablet kalsium, tablet magnesium, tablet enzim.
Marilah kita mulai mengubah sikap kita menjadi lebih positif demi kesehatan dan kebugaran tubuh kita dan yang lebih jauh untuk meraih kualitas hidup yang lebih tinggi. Kombinasi Makanan Seimbang ini dapat kita rasakan hasilnya minimal dipraktekkan 5 kali dalam seminggu selama satu bulan.
Komentar :

Buku ini sangat bagus dibaca oleh remaja dan orang dewasa apalagi dipraktekkan dalam kehidupan seehari-hari. Pola makan yang terdapat pada buku ini sangat bagus bagi kita untuk menjaga stamina tubuh meskipun pada awal pelaksanaannya mungkin cukup membuat kita merasa “aneh” dengan pola makan yang baru ini.
Pun demikian pola makan tersebut dapat dijadikan metode rujukan untuk membantu penyembuhan penyakit-penyakit yang sudah tidak dapat disembuhkan secara medis. Manfaat lain dari pola makan ini ialah penurunan berat badan yang efektif tanpa efek samping, peremajaan, dan peningkatan energi tubuh. Kegagalan yang terjadi biasanya karena informasi yang kurang atau salah mengeni cara tepat mengikuti pola makan ini. Saya pribadi berharap dengan saya memahami buku ini dan berusaha untuk mempraktekannya, saya mengajak seluruh guru/karyawan pun ikut mempraktekkannya juga, guna mencapai kualitas hidup yang lebih tinggi serta untuk meningkatkan kinerja yang eksesnya akan membuat prestasi kerja kita menjadi lebih baik lagi. Insya Allah.


Disarikan dari :
Judul buku : Food Combining
Pengarang : Andang Gunawan
Penerbit : Gramedia
Tahun terbit : 2003
Jumlah Halaman : 179 halaman
Selengkapnya......

Senin, 27 April 2009

Continue Education 2008 Perlu dilanjutkan ?


Mochamad Ridwan, S.Pd. *)

Program Continue Education adalah wujud nyata Dinas Pendidikan Kota Surabaya untuk membentuk dan mencetak guru SD yang berkualitas dan layak mengajar. Besar manfaat yang dirasakan pengajar SD terutama yang selama ini ilmu yang mereka peroleh serasa mengalami penyegaran kembali. Manfaat yang aplikatif ini mengandung harapan agar pelatihan semacam ini perlu dilanjutkan dalam bentuk yang sama atau bahkan lebih baik dari ini dengan materi cakupan yang lain.


Mulai tanggal 19 Oktober sampai dengan 14 Desember 2008 program Continue Education yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Surabaya bekerjasama dengan Universitas Negeri Surabaya dilaksanakan. Pelatihan ini diikuti oleh seluruh guru SD negeri dan swasta selingkup wilayah kerja Diknas Kota Surabaya terutama guru kelas jenjang kelas 4-6 SD. Pelatihan ini dilaksanakan bertempat di kampus Universitas Negeri Surabaya dengan sistematika 8 kali tatap muka / pertemuan, setara menempuh mata kuliah 2 SKS. Di akhir pertemuan diadakan ujian akhir dengan soal yang disesuaikan dengan materi pelatihan. Materi yang diberikan adalah Asesmen atau penilaian pembelajaran dan Pembelajaran Inovatif dengan tutor dosen dari Universitas Negeri Surabaya yang kompenten di bidangnya. Adanya program yang digulirkan Diknas ini semula disambut dingin oleh para guru SD dengan alasan program ini terkesan mendadak dan waktu pelaksanaannyapun bertepatan setiap hari Minggu. Tetapi kiranya karena tanggung jawab seorang pengajar untuk terus menambah ilmu dan pengetahuan serta memperoleh sertifikat penghargaan mengikuti pelatihan, maka peserta tetap mengikuti dengan antusias walaupun pelaksanaanya menyita waktu untuk keluarga.

Apa esensi dari Continue Education 2008 ini ?
Melihat dari itikad baik Pemerintah kota Surabaya dalam hal ini Diknas Kota Surabaya untuk memajukan pendidikan terutama memajukan kualitas dan kuantitas guru, mungkin inilah salah satu cara yang tepat dalam mewujudkan impian ini. Apalagi pemerintah pada tahun 2009 berencana menaikkan gaji PNS Guru menjadi minimal 2 juta per bulan, tidak berlebihan kiranya usaha menaikkan grade kualitas guru ini digulirkan. Pemerintah tidak mau kecolongan lagi dengan pengalaman–pengalaman sinis sebelumnya yang terjadi pada para pengajar ini. Guru tidak dipandang menjadi sekedar profesi yang biasa dengan penghasilan dan kemampuan yang seadanya, tetapi profesi dan kemampuan luar biasa sehingga generasi yang dibimbingnya menjadi generasi yang bisa bersaing diantara warga dunia bukan hanya sekedar berdemonstrasi apalagi disertai tindakan anarkis pengerusakan fasilitas. Untuk itu pemerintah Kota Surabaya melalui Diknas Pendidikan berusaha membuat guru-guru selalu dalam kondisi fress graduated. Salah satunya dengan diselenggarakan program continue education ini. Materi yang disampaikan dalam pelatihan inipun adalah materi yang dihubungkan dengan permasalahan sehari-hari yang selalu dihadapi oleh guru. Tujuannya jelas agar guru secara aplikatif mengamalkan ilmu yang didapat agar dunia pendidikan semakin maju berkembang.
Esensi yang kedua adalah berhubungan erat dengan program sertifikasi guru. Dengan semakin banyak guru mengikuti pelatihan-pelatihan pendidikan maka semakin banyak pula point yang dikumpulkan guru tersebut untuk mengikuti sertifikasi. Tetapi adalah naïf kiranya mengikuti pelatihan ini hanya mengharapkan sekedar kertas piagam atau sertifikat tanpa tahu dan ambil manfaat yang dibisa diaplikasikan dalam keseharian mengajar di kelas. Oleh karena itu program ini memang dirancang agar para guru khususnya guru SD bisa berkembang dan bertambah ilmu pengetahuannya.

Harapan Continue Education 2008
Bagi Diknas Kota Surabaya tentu program pelatihan ini adalah perbaikan kualitas dan kuantitas guru segera terwujud sebelum diberlakukannya anggaran 20% pendidikan oleh pemerintah yang insyaAllah rencananya mulai berjalan tahun 2009. Persiapan ini juga menjadi tantangan tersedianya guru-guru yang mampu menunjukkan prestasi di bidang akademik maupun pedagogis. Tidak menutup kemungkinan bahwa di kota Surabaya akan mempunyai beberapa guru bahkan semua yang menjadi pioner dalam percontohan guru-guru berkualitas di daerah lain. Memang benar adanya bahwa dunia pendidikan ujung tombaknya adalah guru. Ditangan guru tersebut mampu mengubah sejarah suatu bangsa. Bagi guru sendiri harapannya dengan adanya program pelatihan ini adalah pendalaman materi keguruan dan teknik-teknik penyampaian materi dalam proses kegiatan pembelajaran. Untuk pelatihan ini kebetulan materinya hanya seputar kemampuan penyampaian materi kepada siswa sebagai peserta didik, serta kemampuan menganalisis umpan balik dalam suatu proses pembelajaran. Tidak mudah bagi pengajar yang rata-rata pengalaman mengajarnya lebih dari 10 tahun tanpa pernah sesekalipun mencarge kemampuannya, bisa mengajar dengan baik. Fakta inilah yang membuktikan jika program pelatihan continue education 2008 ini perlu diikuti semua guru.
Nah apakah setelah selesai 14 Desember 2008 lalu kemudian program continue education ini dicukupkan sampai disini ? ataukah program ini hanya suatu try out bagi agenda Diknas Kota Surabaya?. Kemungkinan besar walaupun program pelatihan ini digelar tanpa sengaja, tetapi sudah menjadi hati bagi sebagian besar pengajar SD di Kota pahlawan ini. Manfaat yang diperoleh lebih besar kiranya sehingga bisa diaplikasikan di sekolah masing-masing, karena itu harapan kami sebagai guru-guru SD kiranya tidak berlebihan di tahun 2009, program pelatihan semacam ini bisa dilakukan lagi dengan materi yang berbeda sesuai dengan permasalahan-permasalahan kami yang kami hadapi di kelas. Begitupun pelayanan pihak Universitas Negeri Surabaya sebagai tempat pelatihan, bagi kami adalah menunjukkan kuantitas suatu pelatihan yang perlu diperhatikan lebih baik lagi. Memang agak terkesan tidak mengenakkan apabila terdapat oknum yang kurang ramah selama pelatihan berlangsung. Semoga semua ini mewakili ungkapan hati seluruh guru-guru SD negeri dan swasta yang mengikuti continue education 2008.

*) Guru SD Al Hikmah Surabaya

Selengkapnya......

Rabu, 22 April 2009

Pengumuman Pemenang Lomba Student Fair 2009

PEMENANG LOMBA STUDENT FAIR 2009

Hasil pelaksanaan lomba yang dilaksanakan di acara student fair 2009 adalah sebagai berikut :


Komputer Eksternal

Kategori A
Juara I NURRAFI WIRA S. (PG. DELIMA) 0,20 DETIK
Juara II FERDIANSYAH (PG. DELIMA) 0,24 DETIK
Juara III RYU RAHMAN MUKTI C. (TK MUTIARA ANAK SHOLEH) 0,24 DETIK

Kategori B
Juara I AFNANDIGO R. A. (SD AL FALAH TROPODO I)
Juara II DENARA (SD RAUDLATUL JANNAH)
Juara III ANITA RIZKIA (SDN. WONOAYU 1)

Kategori C
Juara I SANIFA OKTAVIA W. (SD AL FALAH DARUSSALAM) 66.500/51 KATA
Juara II UTOMO NUR (SD AL FALAH DARUSSALAM) 61550/37 KATA
Juara III BIANDA REYHAN W. (SD AL FALAH DARUSSALAM) 34150/51 KATA


Menggambar & Mewarna Eksternal Kategori :

Kategori A
Juara I VICTORY J. (TK NUSA INDAH) 1.350
Juara II TERISSA (TK DEWI) 1.270
Juara III NIA (TK RAUDLATUL JANNAH) 1.125

Kategori B
Juara I SALSABIIL A. (SD ISLAM ABABIL) 1.750
Juara II RORO ANDIN (SDN PAKIS VIII) 1.565
Juara III SAVNA ALYA A. (SD ISLAM ABABIL) 1.350

Kategori C
Juara I ENDRY SALSABILA (SD RAUDLATUL JANNAH) 2.750
Juara II MICARIYANDY F. K. (SD AL FURQON JEMBER) 2.565
Juara III VIOLETA LANONE (SD AL FALAH SURABAYA) 2.350


PEMENANG LOMBA STUDENT FAIR 2009


Komputer Internal Kategori C
Juara I R. MOCH. PRADIPTO S. 32700 / 32 KATA
Juara II AFKAR RONNAN MUHAMMAD 13500 / 33 KATA
Juara III ANISA NADA SUKSMONO 13150 / 43 KATA



Menggambar & Mewarna Internal

Kategori B
Juara I AMIRA AULIA 1.425
Juara II CARISSA 1.370
Juara III SALMA SYIFA 1.225

Kategori C
Juara I BENING S. P. 2.350
Juara II ZAVIRA N. A. 2.175
Juara III QONITA 2.010



Selengkapnya......

Selasa, 21 April 2009

Pengumuman Pemenang Lomba Student Fair 2009

Pemenang Lomba Komputer Kategori B
1. B.007.E, AFNANDIGO R. A., SD AL FALAH TROPODO I
2. B.071.E, DENARA, SD RAUDLATUL JANNAH
3. B.069.E, ANITA RIZKIA R., SDN WONOAYU 1



Selengkapnya......

Senin, 20 April 2009

MEMBUDAYAKAN KARYA TULIS UNTUK GURU

Mochamad Ridwan, S.Pd. *)

Begitu banyak tulisan atau buku bertemakan tentang pendidikan yang ditulis oleh seorang pakar pendidikan ataupun orang yang berkompenten dalam dunia pendidikan. Tetapi sangat jarang tulisan maupun buku-buku yang bertemakan pendidikan dikarang atau ditulis oleh seorang guru biasa. Artinya peran serta guru dalam menyumbangkan pikiran maupun ide mereka tidak disalurkan dalam bentuk tulisan.

Masih segar ingatan kita selama masa kuliah, begitu banyak tugas-tugas yang menuntut kita untuk membuat suatu tulisan, misalnya dalam laporan kunjungan, laporan praktek mengajar dan yang paling menentukan dalam kelulusan yakni karya tulis ilmiah atau skripsi. Akan tetapi setelah bertahun-tahun lulus dari bangku kuliah, kita seakan lupa akan proses pembuatan karya tulis seperti tersebut diatas. Apalagi rutinitas dan aktifitas mengajar adalah suatu pekerjaan yang sudah banyak menyita waktu. Dan hasilnya seorang guru terjebak dalam rutinitas belaka tanpa berusaha mengembangkan diri.
Dari para finalis lomba Karya Tulis Guru Tingkat Nasional tahun 2007 lalu yang diadakan Departemen Pendidikan Nasional, Propinsi Jawa Timur hanya mampu mengirimkan 23 finalis. Jumlah ini tidak sesuai dengan penghargaan Jawa Timur dalam perannya mengentaskan WAJAR 9 tahun oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Sedikitnya finalis LKTG Tingkat Nasional ini meyakinkan argumen saya tentang budaya membaca dan membuat karya tulis atau menulis untuk guru di Jawa Timur rendah sekali. Mengapa bisa begitu ?

Mengapa harus menulis
Pernyataan Prof Rahman menyentak hati nurani kita sebagai guru. Apakah kita sudah berkualitas? Tentu jawaban ini terserah pada masing-masing individu. Tetapi boleh saya mengargumentasikan kondisi pendidikan kita beberapa tahun kedepan. Saat ini dunia pendidikan atau masalah pendidikan adalah masalah yang sekian dari permasalahan negara ini. Anggaran pendidikan dalam APBNpun 20 % dari rencana awal dalam UU Sisdiknas masih tersendat-sendat. Tetapi untuk menyenangkan guru, pemerintah menjadwalkan agenda sertifikasi guru. Sertifikasi ini tujuannya adalah menjadikan guru Indonesia yang terampil, kompenten, dan profesional. Untuk menuju kesana dibutuhkan syarat-syarat yang ketat dari calon penerima sertifikasi. Satu diantaranya adalah pengembangan diri termasuk pernah membuat karya tulis, buku, artikel, ataupun laporan penelitian. Diharapkan dengan pengembangan diri seorang guru ini pengetahuan keilmuan yang terdapat di dalam diri seorang guru bisa di merger dengan peserta didik.
Menulis dan membuat karya tulis pada dasarnya adalah berawal dari membaca. Seorang guru yang merasa sudah pintar dan tidak mau membaca memperbarui ilmunya, maka guru tersebut ketinggalan 1000 langkah dari muridnya. Ibarat kata murid sudah sampai Amerika Serikat dengan naik pesawat super cepat, sedangkan guru baru saja meninggalkan halaman rumahnya menuju Amerika Serikat dengan naik Sepeda Onthel. Dengan membaca, maka guru akan menemukan sesuatu yang baru pada dirinya. Sesuatu ini diharapkan mampu membuat dirinya lebih percaya diri, terutama terhadap muridnya. Membaca pula akan menemukan permasalahan–permasalahan baru sehingga perlu dengan cepat menyelesaikannya. Atau sebaliknya bagi guru yang menemukan permasalahan-permasalahan akan cepat terselesaikan dengan pengetahuan yang dimilikinya dari membaca. Nah, bagi seorang guru yang sering dan gemar membaca akan selalu merasa tidak ketinggalan dengan ilmu yang dimiliki muridnya. Jangan dikira murid kita sekarang adalah benda hidup yang mati atau dalam bahasa kasar adalah murid-murid itu identik dengan bodoh belum tahu apa-apa. Di zaman yang serba mutakhir ini, semua akses bisa dimengerti dan dipahami murid-murid kita, walaupun mereka di jenjang SD.
Tetapi apakah kita harus mewujudkan anggaran 20 % dulu dari pemerintah, kemudian baru menciptakan suatu yang menggemparkan ? Pepatah yang tidak asing lagi ditelinga kita bisa adalah karena biasa adalah sangat cocok untuk diterapkan dan digunakan kita sebagai guru. Karena pembiasaan diri maka kita akan bisa mencapai cita-cita. Membaca adalah kunci sukses dan kemudian menuliskan kembali hasil membaca adalah kunci pengembangan diri seorang guru. Membiasakan menulis juga adalah salah satu bentuk aktualisasi ide-ide cemerlang dari seorang guru yang bermanfaat bagi dirinya dan sudah barang tentu bermanfaat bagi murid-muridnya. Sedikitnya manfaat yang diperoleh guru membuat karya tulis adalah (1) meningkatkan kompetensi pendidik dalam mengajar dan mendidik; (2) mendayagunakan dan memanfaatkan hasil kerja kreatif pendidik semaksimal mungkin; (3) meningkatkan produktifitas publikasi ilmiah pendidik; (4) point untuk sertifikasi atau kenaikan pangkat/golongan. Kalau kita sudah bisa mengambil manfaat dari pembuatan karya tulis maupun tulisan, diharapkan apa yang dikatakan Prof. Arif Rahman di atas akan terwujud. Pendidikan bangsa Indonesia akan baik kalau guru-guru Indonesia berkualitas.

Masalah apa yang perlu ditulis ?
Sangatlah mudah mencari masalah untuk ditulis sebagai karya tulis kita. Semisal di sekitar aktifitas kita sehari hari yakni masalah-masalah selama mengajar di kelas. Kita bisa menulis tentang penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas adalah suatu penelitian yang didasarkan pada identifikasi masalah nyata dan faktor-faktor penyebab masalah aktual yang dihadapi pendidik dalam pembelajarannya. Jadi penelitian ini didasarkan dari permasalahan-permasalahan riil yang sehari-hari dihadapi oleh guru. Menurut Prof. Dr. Kisyani Laksono, M.Hum. kajian dalam penelitian ini meliputi masalah pembelajaran, desain dan strategi pembelajaran, alat bantu, media dan sumber belajar, sistem asesmen proses dan hasil pembelajaran, dan pengembangan pribadi peserta didik dan pendidik.
Penelitian Tindakan Kelas sendiri jarang sekali dilakukan oleh pendidik, padahal pendidik atau guru adalah orang yang terjun langsung setiap hari menangani siswa. Penelitian Tindakan Kelas bertujuan meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pembelajaran; membantu pendidik mengatasi masalah pembelajaran secara terncana dan berkelanjutan; meningkatkan kerja sama profesional diantara pendidik disemua jenjang dan jalur pendidikan; dan menumbuhkan budaya akademik di kalangan pendidik, sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pembelajaran secara berkelanjutan. Dengan tujuan di atas kita bisa meraba-raba apa yang akan ditulis nantinya. Misalnya mengambil judul tentang peningkatan kemampuan menulis siswa kelas 5 SD Al Hikmah Surabaya dengan pendekatan komunikatif.
Masalah lain yang bisa dijadikan bahan untuk membuat karya tulis atau menulis adalah masalah-masalah atau peristiwa yang terjadi disekitar kita. Guru dituntut untuk mengetahui kondisi sekolah beserta isinya, juga dituntut mengetahui kondisi disekitarnya. Dalam hal ini guru diharapkan memiliki sikap proaktif terhadap apa yang terjadi dilingkungannya. Kajiannya bukan hanya masalah pendidikan tetapi luas sekali bisa mencakup masalah sosial, budaya, ekonomi maupun politik. Sebagai contoh menulis masalah budaya, lebih spesifik tentang mengangkat kesenian Kuda Lumping. Kita bisa menulis sisi sejarahnya, pemainnya, ataupun bentuk permainnya. Hasil tulisan ini bisa dibuat sebagai media pembelajaran, ataupun dijadikan sebuah artikel yang mengangkat masalah budaya. Dampaknya tentu luar bisa bagi semua kalangan dengan hasil tulisan ini. Gampang kan?

Kapan harus menulis ?
Pemasalahan berikutnya adalah kapan kita bisa menuangkan ide-ide dalam bentuk karya tulis atau tulisan ? Adalah pada dasarnya dari diri kita sendiri. Guru yang mau maju pasti bisa walaupun setiap hari banyak sekali rutinitas yang harus dikerjakan. Kalau berbicara masalah sibuk tentu semua guru di Indonesia pasti sibuk. Tetapi diantara kesibukan kita pasti ada waktu luang atau kosong yang bisa kita manfaatkan. Sebagai contoh dalam melakukan penelitian tindakan kelas, kita melakukan penelitiannya di dalam kelas, disaat mengajar. Di saat mengajar itu kita memantau kesulitan-kesulitan apa yang dihadapi siswa, metode apa yang bisa digunakan dalam menyampaikan materi, atau media apa yang seharusnya digunakan. Dengan demikian waktu lain yang semestinya untuk keluarga, tidak tersita banyak dalam membuat suatu karya tulis. Semoga kita semua bisa menjadi guru yang profesional dan berprestasi.


*) Guru SDBI AL Hikmah Surabaya

Selengkapnya......

Jumat, 17 April 2009

Jalasah Ruhiyah Kelas IV bertabur pantun

Jalasa Ruhiyah yang dilaksanakan kelas IV Kamis (16/4) disambut dengan ungkapan siswa yang ditulis dalam bentuk pantun.
Dhito, siswa 4C menulis:

Ada petani sudah tua
Dia sedang menahan dahaga
PAtuhilah kedua orang tua
Agar nanti masuk surga.


Ungkapan siswa tersebut adalah ungkapan yang tulus dan jujur. Pada acara tersebut, rajin sholat dan ngaji juga "diinstall" ulang pada diri siswa. Pada hal ini, Andis, siswa 4B menulis:

Ketika saya sedang olahraga
Saya juga melihat lalat
Jika ingin masuk surga
Kita harus rajin sholat.

Rama, siswa 4B yang lain, juga menuliskan isi hatinya

Jalan-jalan Ketemu Jeng Kelin
Jeng kelinnya lagi sholat
Jika kamu memang disiplin
Apakah kamu disiplin sholat.

Irshad Imtinan, siswa 4C, melengkapi pantun di atas dengan pantun "cara sholat yang baik"

Ada bayi menginjak tanah
bayi itu memanggil emak
ayolah sholat berjamaah
Supaya dapat pahala banyak.

Aldo, siswa 4B, menyampaikan pesan indahnya:

Bunga mawar bunga melati
Bila dicium harum baunya
Banyak cara sembuhkan hati
baca quran paham maknanya.

Mari kita sambut niat tulus putra-putri kita sehingga semakin besar manfaatnya.

(amur)
Selengkapnya......

kontak via email : sdalhikmah@gmail.com