Visi & Misi

Visi
Menjadikan siswa berakhlak karimah, berprestasi akademik optimal.

Misi
Menjadikan lembaga pendidikan Islam yang layak dan mudah di contoh.

Dengan senantiasa meneladani Rasulullah Saw, mari tingkatkan terus semangat berbudi sekaligus berprestasi internasional
Tampilkan postingan dengan label kejujuran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kejujuran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juni 2009

Al Hikmah Honesty Award


Ketika banyak pihak menyoroti angka-angka capaian Unas, Sekolah Al Hikmah lebih tertarik memberikan penghargaan bagi siswanya yang telah mengikuti Unas dengan jujur. Jumat (19/6) pengurus YLPI Al Hikmah menganugerahkan Al HIkmah Honesty Award kepada siswa kelas 6 SD, kelas 9 SMP dan kelas 12 SMA Al Hikmah. Sebuah piala warna kuning emas setinggi 2 meter, bergambar hati di atasnya.

Hadir pada acara yang digelar lesehan di serambi masjid sekolah ini, seluruh pengurus, komite sekolah, para guru dan pimpinan sekolah, perwakilan dari UPDT BPS Kecamatan Gayungan, dan siswa kelas 6, kelas 9 dan 12 Sekolah Al Hikmah.
“Mendapatkan nilai yang baik dalam UASBN memang penting, Tetapi meraih nilai tersebut dengan usaha yang jujur jauh lebih penting. Alhamdulillah, saya bangga kepada siswa Al Hikmah yang bisa mempertahankan tradisi kejujuran ketika mengikuti ujian”, kata Ir. Abdulkadir Baraja, Pembina YLPI Al Hikmah.
“Saya terharu diundang menghadiri acara ini. Bagi saya ini spesial, karena yang lebih dihargai adalah kejujuran siswa. Dan memang saya percaya selama ini memang pelaksanaan Unas di Al Hikmah jujur. Saya yakin tahun depan prestasi siswa akan lebih baik lagi”, kata Fatahullah, SH, Kepala UPDT BPS Kecamatan Gayungan.
Muhammad Nouval Isroq Pratama, siswa kelas 6, mengaku senang dengan pemberian penghargan ini. “Kami memang selalu diminta jujur. Tak perlu nyontek. Kan kami memang sudah siap ikut ujian. Sudah lama siap-siapnya”
Setelah menerima piala tersebut, siswa-siswa berebut mengangkatnya. Mereka lalu mengaraknya di sepanjang jalan sekitar sekolah. Sambil berjalan, mereka juga membagikan beras kepada tukang becak, pasukan kuning, penjaga rel kerta api, polisi cepek. Juga kepada tukang kebun dan satpam sekolah.
Beras tersebut merupakan sumbangan seluruh pengurus yayasan, komite sekolah, guru dan karyawan dan orang tua siswa. Tidak kurang dari 2 ton beras telah terkumpul.
Kenapa mensyukurinya dengan beras ?
“Pertama, beras adalah kebutuhan pokok semua orang. Beras juga berasal dari padi. Kami ingin anak-anak seperti beras, dibutuhkan kehadirannya oleh masyarakat. Sekaligus meniru padi, lebih berisi lebih rendah hati”, kata Drs. Gatot Sulanjono, Kepala SD Al Hikmah.
Selengkapnya......

Kamis, 04 Juni 2009

Indahnya Kejujuran

Alex Murgito *)

Negara kurang mampu bersaing bukan karena kurangnya orang pintar atau sumber daya, melainkan karena rendahnya kejujuran rakyatnya. Untuk itu, menanamkan kejujuran kepada siswa sebagai generasi penerus bangsa adalah hal yang sangat penting. Tidak hanya dalam ceramah atau pelajaran, melainkan juga melalui pembiasaan sehari-hari.

Bahkan ada guyonan, kejujuran itu mahal harganya. Mungkin karena yang bilang itu jarang menemukan kejujuran pada diri orang yang ditemuinya. Ini berarti kejujuran adalah barang antik yang dicari setiap orang tetapi keberadaannya terbatas.
Berbeda jika kita dengan mudah menemukan kejujuran. Kejujuran menjadi murah harganya karena mudah ditemui di sekitar kita.
Sekolah yang berhasil menanamkan kejujuran pada para siswa akan dengan mudah mendapatkan hal itu di sekolah setiap hari. Hal ini seperti peristiwa yang terjadi pada hari Selasa, 2 Juni 2009. Seorang siswa yang sebenarnya sangat pintar dan pendiam, yang sebenarnya sangat wajar mendapat di atas rata-rata, sebuah nilai yang lebih baik dari yang lain, menunjukkan kesalahan yang menguntungkan dirinya.. Jawaban siswa tersebut, dalam sebuah tes 15 soal pilihan ganda dan 5 soal essay, hanya salah satu. Dalam kesempatan ini dimanfaatkan guru untuk mengukur kejujuran siswa, yaitu dengan memberi nilai seratus kepada siswa tersebut, sebuah nilai yang biasa dia dapatkan dan hal itu diakui teman-temannya. Namun, sebenarnya pada saat itu, siswa tersebut tidak berhak mendapat nilai seratus.
Apa yang terjadi ketika hasil tes dibagikan? Siswa tersebut melaporkan ke guru, “Ustadz, jawaban saya salah satu. Jadi saya tidak seharusnya mendapat nilai seratus.”
Guru itu tertegun kepada siswa tersebut. Dalam batin sang guru berkata, “Alhamdulillah, dia lulus tes kejujuran. Dia tidak mau hasil ulangannya tercampuri dengan sesuatu yang tidak jujur.”
“Ini anak-anak. Kita memiliki teman yang sangat jujur. Meskipun dalam kondisi yang menguntungkannya, dia mau mengakui kesalahan dan menanggung akibatnya. Siapa yang mampu jujur seperti ini, akan selalu dihargai dan dihormati oleh lingkungannya.”
Sebuah contoh kecil dari lingkungan mereka yang sangat menarik dan biasanya akan membekas lebih dalam. Kejujuran yang demikian perlu kita jaga dan kita perkuat dengan memberi reward kepada kejujuran yang demikian. Bisakah hal itu kita lakukan bersama? (amur)

*) Guru SDBI Al Hikmah Surabaya
Selengkapnya......

kontak via email : sdalhikmah@gmail.com