Visi & Misi

Visi
Menjadikan siswa berakhlak karimah, berprestasi akademik optimal.

Misi
Menjadikan lembaga pendidikan Islam yang layak dan mudah di contoh.

Dengan senantiasa meneladani Rasulullah Saw, mari tingkatkan terus semangat berbudi sekaligus berprestasi internasional
Tampilkan postingan dengan label prestasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prestasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Agustus 2009

Sukses Ujian, Prestasi Sekolah atau LBB?*

Mohammad Efendi **

Coreng hitam menghias muka pendidikan kita awal Mei ini. Pasalnya, seperti yang ramai diberitakan di media, beberapa sekolah gagal meluluskan siswanya. Bahkan ada sekolah di belahan timur Pulau Jawa yang gagal 100 persen. Setelah dirunut, ternyata siswa lebih mempercayai kunci jawaban palsu untuk diisikan di LJK (Lembar Jawaban Komputer), dibanding dengan hasil olah pikir mereka sendiri. Menyedihkan!
Padahal sekolah tersebut tergolong favorit. Solusi yang ditawarkan BSNP pun aneh, dan keluar dari rel. Mengapa demikian? Karena ujian ulang yang akan mereka gelar untuk siswa yang terbukti langcung tersebyut jelas-jelas tak ada dalam POS (Panduan Pelaksanaan Operasional) ujian. Jelas, hal ini menjadi perdebatan marak. Seperti yang kita ketahui, kelulusan SMP dan SMA sangat bergantung kepada hasil Unas mereka. Dan berpatokan pada ketetapan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), tahun ini, angka standar kelulusan sebesar 5,50.

Sementara itu, bagi siswa SD, kelihatannya tak banyak hal yang merintangi untuk dapat lulus. Karena kelulasan masih di tangan sekolah masing-masing. Bahkan boleh jadi, hasil UASBN pun masih bisa dinego sebagai syarat kelulusan. Karena, seperti penuturan Kepala Dispendik Kota Surabaya, Bapak Sahudi, standar komitmen kelulusan siswa SD metropolis ini “hanya “ 2,81. Angka itu didapat dari rata-rata standar kelulusan yang disetorkan sekolah kepada dinas pendidikan. Dan uniknya, meskipun nilai tersebut tergolong minim, itu pun masih bisa dilanggar oleh sekolah yang ngotot siswanya lulus.. “Sekolah boleh melanggar standar komitmen kelulusan tersebut, tapi harus melaporkan kepada kami,” ujar mantan kepala SMAN 15 itu.

Seiring dengan itu, guna meraih kelulusan maksimal, bulan-bulan lalu, sekolah telah mendesain pembelajaran untuk sukses ujian. Usaha gigih yang dipakai manajemen sekolah pun bermacam-macam. Mulai dari pematangan penguasaaan materi pelajaran, sampai mengarah ke spiritual. Les-les sepulang sekolah, atau tambahan jam pelajaran menjadi program yang wajar ada. Bahkan, jika tak ada, ada kalanya wali murid menanyakannya keseriusan sekolah dalam mempersiapkan anaknya untuk ujian. Demikain pula dengan upaya penguatan ruhani lewat shalat malam dan istigosah bersama. Luar biasa!

Namun, benarkah hajat tahunan ini hanya menjadi milik sekolah? Tentu tidak. Ada pihak lain yang turut “memanfaatkan” rutinitas ini untuk mengatrol bisnis mereka, yaitu LBB (Lembaga Bimbingan Belajar). Bagi LBB, momen ujian dimanfaatkan sebagai salah satu poin yang digemborkan ke orang tua untuk membelajarkan anaknya di LBB tersebut. Mereka menawarkan solusi bagi kekhawatiran orangtua akan prestasi belajar anaknya. Mudahnya, seolah mereka bicara, “Jika ingin sukses ujian, ikutlah bimbingan di LBB kami.” Bahkan berdasar penuturan beberapa teman, sudah bukan hal baru jika sekolah merangkul LBB untuk mengisi bimbingan pelajar di sekolah mereka. Jika sudah demikian, berati ada dua pemain yang menjadi katalis peningkatan kemampuan siswa: guru sekolah dan LBB.

Sehubungan dengan itu semua, wajarlah bila kemudian muncul pertanyaan. Bila anak sukses ujian, sedangkan sang anak ikut bimbingan belajar, itu prestasi siapa? Prestasi sekolah atau LBB? Atau semata-mata prestasi siswa? Inilah pertanyaan yang mungkin perlu direnungkan kembali. Bukan untuk menggugat sekolah atau LBB. Tapi lebih semacam upaya mempertanyakan peranan sekolah dalam melaksanakan amanah dalam mendidik siswa. Karena, bagimanapun juga, institusi inilah yang hendaknya didorong untuk mendidik siswa sesuai dengan fungsinya. Jangan sampai keberadaannya termarginalkan oleh LBB.

Tentu menjadi kebanggaan bagi sekolah bila ada siswanya yang meraih nilai UAN tertinggi di wilayahnya. Karena itu merupakan poin positif dalam melambungkan nama sekolah. Namun, benarkan prestasi itu muncul semata-mata sebagai buah upaya sekolah? Ini yang perlu dipertanyakan. Karena bukan tidak mungkin, ada faktor lain yang justru dominan mengalir di dalamnya. Misalnya, dengan nambah jam belajar di luar kelas. salah satunya lewat privat atau LBB. Inilah yang mestinya direkam secara kritis oleh wali murid di Metropolis. Hingga mereka benar-benar bisa memilih sekolah yang sesuai dengan anaknya. Bukan hanya berdasar kata orang, atau label favorit atau nonfavorit saja.

Luar biasa memang, penetrasi LBB ke dunia pendidikan sekarang ini. Kemunculannya yang dulu hanya dianggap sebagai teman belajar siswa, kini menguat menjadi instansi pendidikan itu sendiri. Ada beberapa nama LBB yang kini hadir di Surabaya. Ada yang memang hanya ada di Surabaya saja, namun ada pula yang tergolong LBB besar dan ternama. LBB tersebut telah sukses menjalarkan tangannya di kota-kota tanah air ini. Salah satunya Primagama yang familiar dengan wajah Rano “si Doel” Karno.

Guna menancapkan taringnya di sebuah sekolah, mereka tak segan-segan mengadakan try out gratis. Dan arahnya bisa ditebak, kegiatan ini ibarat kail yang akan menghasilkan bondongan siswa yang ikut nambah kaweruh di tempatnya. Dan jika siswa didikan mereka berhasil diterima di sekolah atau perguruan tinggi ternama (ITS, Unair, UGM, dll), mereka akan memampangkannya di depan tempat bimbingan. Mungkin sebagai pembakar spirit, atau menunjukkan prestasi yang telah dicapai.

Secara pragmatis, kehadiran LBB dan semacamnya dapat menjadi partner sekolah atau orang tua untuk meningkatkan prestasi anak didiknya di sekolah. Jika targetnya hanya kognitif saja. Misalnya sukses UAN, masuk perguruan tinggi, dll. Namun secara menyeluh, terdapat perbedaan mendasar antara keduanya. Yaitu, sekolah tak boleh hanya mengurusi kognitif, tapi juga harus mengembangkan psikomotor dan afektif siswa. Di lain pihak, biasanya ranah psikomotor dan afektif tak diurusi di lembaga-lembaga tersebut. Padahal, dua aspek itulah yang menjadi semangat KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang berganti nama dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).

Masalah pengelolaan pendidikan, dewasa ini memang tak lebas dari penggunaan jaringan. Maksudnya, perlu membangun jaringan kerja sama dengan lembaga-lembaga sejenis yang memiliki tujuan sama. Hingga sekolah yang bersangkutan mampu mengukur prestasi anak didiknya di antara siswa-siswa sekolah yang lain. Hingga, istilah jago kandang tak muncul di sekolah tersebut. Sekat-sekat tembok sekolah perlu disingkirkan sejauh mungkin. Sekolah lewat manajemen terukur harus mampu menempatkan dirinya sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional yang memiliki tujuan sama dengan sekolah-sekolah lain. Jadi, jangan hanya bertarung sendirian. Tapi gunakan kemampuan kebersamaan untuk menyelesaikan masalah pendidikan. Apakah hanya dengan sesama sekolah saja kerja sama itu dibangun? Tak ada salahnya juga dengan LBB. Asalkan, tetap terkontrol.

Berkaitan dengan siswa yang ikut belajar di luar sekolah, secara umum, sikap sekolah di Surabaya cukup beragam. Ada sekolah yang membiarkan, bahkan merasa terbantu. Namun ada juga yang memohon orangtua untuk tetap memercayakan masalah pendidikan anaknya kepada sekolah. Fenomena kedua ini biasanya didasari pada tingkat kelelahan fisik dan emosi siswa yang telah belajar seharian di sekolah. Terutama sekolah berjenis full day. Lagi pula, tak semua masalah pelajaran di sekolah dapat diobati dengan les privat atau ikut LBB. Bisa jadi ada aspek lain yang menyebabkan anak kurang memahami pelajaran.

Namun, yang lebih penting dari itu semua adalah, sekolah harus mampu menunjukkan prestasi secara independen. Maksudnya, prestasi yang diperoleh sekolah haruslah benar-benar jerih payah sekolah. Bukan karena siswa belajar di tempat lain, lalu membuat harum nama sekolah.

efendialhikmah@yahoo.co.id

* Tulisan tersebut dimuat di Radar Surabaya, 8 Juni 2009
** Guru SDBI Al Hikmah Surabaya

Selengkapnya......

Selasa, 31 Maret 2009

Alhamdulillah Rizky Raih Peringkat I Olympiade Matematika Tingkat Kota Surabaya


Alhamdulillah berkat usaha keras, do'a, dan dukungan dari semua pihak, akhirnya Mohammad Rizky Aulia Bisri kelas 5 SD Al Hikmah behasil meraih Peringkat I Olympiade matematika yang diselenggarakan oleh Diknas Kota Surabaya.
Olympyade yang diikuti oleh 31 perwakilan Kecamatan Sekota Surabaya, diikuti oleh sekitar 186 anak untuk Olympiade Matematika dan Sains. Mudah-mudahan Rizky mampu menunjukkan prestasinya di Tingkat Propinsi maupun Tingkat Nasional, semoga, amiin.
Selengkapnya......

Pramasari Rajanna Masuk 6 Besar Olympiade Sains


Alhamdulillah Pramasari Rajanna E Siswi kelas 5 SD Al Hikmah masuk 6 besar dalam even Olympiade Sains yang diselenggarakan oleh Diknas Kota Surabaya 30 Maret 2009 kemarin. Berikutnya akan mendapat bimbingan oleh Diknas untuk persiapan Olympiade Tingkat Propinsi Jawa Timur. Selengkapnya......

Sabtu, 28 Februari 2009

A NEW ALIF HAS COME


Kiki Juara Olimpiade Matematika

Selalu ada kesempatan untuk berprestasi! Itulah tekad SD Al Hikmah dalam memotivasi semua unsur di dalamnya untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan umat Islam pada umumnya. Hal itu dibuktikan dengan berbagai kejuaraaan, terutama di bidang akademis telah meraih penghargaan baik di tingkat local maupun nasional, bahkan internasional. Seperti yang baru saja diraih oleh M Rizqi Aulia Bisri. Siswa kelas 5 B ini berhasil menyabet medali emas olimpiade matematika se Surabaya – Sidoarjo yang diselenggarakan di SD Raudlatul Jannah Sidoarjo.

Olimpiade matematika yang dilaksanakan pada hari Minggu (15/02) itu diikuti oleh 120 peserta dari sekolah-sekolah terbaik di Surabaya dan Sidoarjo. Setelah mengikuti berbagai tahapan seleksi akhirnya terpilih 5 besar untuk melaju ke babak Grand Final. Dari 5 peserta terbaik itu kemudian dipilihlah juara 1, 2, dan 3. Dan dipanggilah nama M Rizqi Aulia Bisri atau yang lebih akrab dipanggil Kiki sebagai juara satu.

Menurut Kiki, soal-soal dalam olimpiade ini tidak terlalu sulit karena ia sering diberi latihan soal-soal seperti itu di sekolah. Putra Drs. Buchori ini memang dari awal suka pelajaran matematika, terutama soal-soal menghitung modus. Tidak ada kiat khusus bagi siswa kelas 5 B ini dalam mempersiapkan lomba ini. Ia berharap ini akan menjadi titik awal untuk meraih prestasi lebih tinggi. “Setelah generasi Alif, yang bisa mencapai prestasi Internasional, kita harapkan Kiki adalah penggantinya yang mudah-mudahan bisa meraih prestasi lebih baik”, ungkap ust. Solichin selaku Waka Kesiswaan. Tiada henti untuk berprestasi, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan semangat siswa dan segaenap ustad dan ustadzah di SD Al Hikmah.(bee)


Selengkapnya......

Kamis, 25 Desember 2008

Sabet Medali Perunggu & Perak pada Kejuaraan Kempo


Pertengahan bulan Nopember 2008 lalu, berlangsung kejuaran Nasional Kempo antar Kota ke VIII bertempat di Hall Basket Gelora Bung Karno Jakarta Salah satu murid SD Al Hikmah kelas V , Amitoshi Aldzikri terpilih memperkuat team Kempo kota Surabaya bersama 11 kenshi lain. Jerih payah Toshi selama ini akhirnya terbalas dengan meraih juara III memperoleh Medali Perunggu untuk pertandingan Embu Berpasangan Putera Yunior kyu II (Tingkatan sabuk biru).

“Alhamdulillah jerih payah saya ikut Training Center di Universitas Narotama & Universitas Surabaya yang berlangsung selama 2 bulan mulai awal September dan latihan diadakan setiap malam jam 19.00 s/d jam 21.30 membawa hikmah” ungkap Toshi saat kami wawancarai. Sedangkan team Kempo kota Surabaya berhasil membawa 4 emas, 2 perak & 1 perunggu dan berhasil keluar sebagai juara umum ke 3. Kejuaraan Nasional Kempo antar kota se-Indonesia ini diikuti oleh 560 kenshi yang dating dari 49 kota dari 23 provinsi di Indonesia, diantaranya dari kota Banda Aceh, Bukit Tinggi, Denpasar, Kutai Kartanegara, Sorong dan Jayapura Sementara Bushido Bugario, siswa kelas 1 SD Al Hikmah meraih medali Perak untuk kategori Kerapihan Teknik Berpasangan Putera kyu 4 pada Kejuaraan Kempo Yunior se kota Surabaya. Kejuaran ini memperebutkan piala KONI Surabaya.
Kejuaraan yang dilangsungkan pada awal bulan Nopember lalu tersebut bertempat di Universitas Kristen Petra Surabaya diikuti oleh 119 kenshi dari 6 kota di Jawa Timur yaitu Dojo Uniar, Dojo Ubaya, Dojo Untag, Dojo Universitas Widya Mandala dari Surabaya, Dojo Universitas Brawijaya & Unmer dari Malang, Dojo Madrasah Aliyah Negeri 1 Tulungagung serta Dojo Madrasah Aliyah Negeri 1 Kediri. Dojo Sidokare Sidoarjo, & dojo Semen Gresik.( atm)


Selengkapnya......

Dengan Sampah Bisa Jadi Juara


Satu lagi prestasi bergengsi berhasil ditorehkan oleh Al Hikmah. Kali ini giliran guru yang berhasil membawa pulang piala lomba guru kreatif se-Jawa. Adalah Ustad Imam Syafii yang menjadi juara III dari lomba yang diadakan perusahaan minuman terkenal di Indonesia tersebut. Dengan mengambil judul “Media papan sampah sebagai sarana melatih tanggung jawab pada anak” Ustad Imam berhasil mngungguli peserta
lain dari berbagai sekolah di Pulau Jawa.

Pengumuman dan penyerahan
piala diselenggaran di Semarang pada tanggal 27 November 2008.
Sebanyak 746 peserta yang terdiri dari guru TK – SMA se-Jawa
mengikuti lomba yang diadakan oleh UNIKA Semarang dan Marimas ini.
Dari sekian banyak peserta dipilih 10 peserta dari masing-masing jenjang
sekolah untuk mengikuti fi nal di LPMP Semarang. Dari Al Hikmah ada du
guru yang terjaring masuk fi nal, Yaitu Ustad Imam Syafi i dan Ustadzah
Yuniati.
Pada babak final kesepuluh peserta mempresentasikan karya-karya berupa pembelajaran
kreatif di depan para juri. Melalui berbagai tahapan akhirnya
dipilih 5 peserta yang maju ke babak Grand Final. Suasana
menegangkan mewarnai tes public untuk memilih juara 1 – 3.
Tiap peserta memilih amplop dan menjawab pertanyaan di dalamnya dihadapan 10
orang juri dan semua audien. “Alhamdulillah saya menjawab
pertanyaan dengan baik meskipun agak nervous” Ungkap Ustad Imam saat
menceritakan pengalaman di depan semua Ustad-dan ustadzah. Selain uji
publik seleksi juara juga ditentukan dengan microteaching dari materi yang
dibuat sampai akhirnya dipilih tiga peserta terbaik untuk jadi juara.
Tidak dibutuhkan biaya besar dan alat yang rumit untuk memenangkan
lomba ini. Ustad Imam hanya memanfaatkan papan bekas dan
beberapa sampah sebagai peraga melatih tanggung jawab anak.
“Ternyata dengan sampah bisa mendapat hadiah” begitu kata Ustad
Imam sambil berseloroh. Dengan kemenangan ini ini Ustad Imam
berpesan bahwa kita semua bisa jadi juara asal kita mau berusaha. (bee)


Selengkapnya......

kontak via email : sdalhikmah@gmail.com