Visi & Misi

Visi
Menjadikan siswa berakhlak karimah, berprestasi akademik optimal.

Misi
Menjadikan lembaga pendidikan Islam yang layak dan mudah di contoh.

Dengan senantiasa meneladani Rasulullah Saw, mari tingkatkan terus semangat berbudi sekaligus berprestasi internasional

Jumat, 17 April 2009

SEBUAH BARANG LANGKA YANG BERNAMA KEJUJURAN

oleh : Siti Muniroh *)

Shock, marah, kecewa, malu, sedih dan segala perasaan bercampur aduk menjadi satu. Itu yang saya dan teman-teman rasakan saat itu, saat anak-anak kami dengan segala kejujurannya mengaku bahwa selama ini mereka kerapkali berbuat kecurangan dalam ulangan.

Bahkan muka salah satu teman saya yang biasanya tampak tenang dan sangat sabar, saat itu tampak merah padam. Bagaimana tidak? Saya tahu betapa bangganya beliau terhadap anak-anak didiknya, anak-anak yang punya kemampuan sangat baik, bahkan bisa dikatakan lebih dari teman-temen mereka di kelas lainnya. Mereka yang selama ini menjadi tonggak harapan kami. Tetapi, kenyataan pahit yang harus kami hadapi saat itu, justru mereka yang paling banyak melakukan kecurangan, mereka yang paling lihai bagaimana cara melakukan kecurangan dalam ulangan tanpa harus ketahuan.

Tetapi seperti kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, sepandai-pandai kuda berlari, suatu saat pasti akan terjatuh juga. Serapat-rapatnya bangkai busuk disembunyikan pasti akan tercium juga baunya. Mungkin itu yang sedang terjadi saat itu, kelihaian mereka berbuat kecurangan dalam ulangan terbongkar sudah.

“NYONTEK”, mungkin kata ini tidak asing bagi anda, dan bisa jadi anda juga termasuk salah satu orang yang pernah melakukannya. Bahkan mungkin bagi sebagian orang karena saking terbiasanya, perbuatan satu ini menjadi sangat biasa dan seolah-olah menjadi halal dan sah-sah saja untuk dilakukan. Apalagi saat musim ujian seperti saat ini, nyontek justru menjadi trend dan tradisi. Lebih tragisnya lagi kalau inisiatif untuk nyontek tidak hanya datang dari siswa itu sendiri, tapi atas inisiatif gurunya. Na’udzubillahi min dzalik.

“PENCURI”, itu kata pertama yang disebutkan teman saya di hadapan anak-anak didik kami yang tertunduk malu dan takut seperti maling ayam yang tertangkap basah. Di sebuah ruangan yang cukup besar itu mereka berkumpul, duduk diam, hening tak ada satupun yang berani berbicara. Padahal biasanya ruangan itu tidak pernah sesunyi itu. Mereka seperti terdakwa yang sedang diadili dan siap menerima vonis apapun yang akan dijatuhkan kepada mereka.

Ya, Pencuri adalah sebutan bagi orang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya untuk dimilikinya. Masih mending kalau yang diambil adalah sebuah barang, ayam misalnya, ketika sadar dan bertaubat pencuri itu bisa mengembalikan kepada pemiliknya, banyak memohon ampunan kepada Allah selesai masalah. Tetapi kalau yang dicuri berupa jawaban, nilai, prestasi, hak orang lain, bagaimana cara menggalikannya? Mereka ditanya bagaimana mengembalikan hak teman-teman mereka yang tergeser ke bawah karena mereka jujur, padahal mestinya mereka yang semestinya ada di kelas atas, kelas yang mereka tempati sekarang dengan hasil kecurangan. Bagaimana pula dengan para orang tua yang selama ini mereka bohongi mentah-mentah, apa mereka akan meminta maaf kepada mereka satu-persatu?

Mereka hanya terdiam, semakin menunduk, semakin merasa bersalah. Apalagi ketika diingatkan bagaimana orang tua mereka kelak mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hadapan Allah? Bagaimana kami para guru mereka kelak menjawab jika Allah merpertanyakannya kelak di hari kiamat? Bukankah mereka tangung jawab orang tua, tanggung jawab kami para pendidik yang menjadi orang tua kedua mereka untuk mendidik mereka dengan baik? Mereka semakin terdiam, bahkan beberapa dari mereka tampak meneteskan air mata, menangis lirih. Alhamdulillah…mudah-mudahan itu benar-benar air mata penyesalan, air mata taubat yang akan mengikis habis dosa-dosa mereka. Dengan lantunan alQur’an yang mengalir dari bibir mereka, mereka berurai airmata.
Anak-anakku, mudah-mudahan setelah ini kalian benar-benar menjadi hamba-hamba Allah yang jujur. Jangan pernah kalian mengotori hidup kalian dengan kecurangan, jangan kalian campurkan kebenaran dengan kebatilan. Jangan biarkan nila setitik merusak susu sebelanga. Berapapun yang halal akan menjadi haram jika sedikit saja kalian campurkan di dalamnya sesuatu yang haram. Orang yang baik bukan yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi orang yang mau meyadari kesalahnnya dan memperbaikinya. Dan mudah-mudahan kalian semua adalah orang-orang yang seperti itu, yang mau menyadari kesalahan dan memperbaikinya.

Bagi sebagian orang mungkin yang kami lakukan berlebihan, terlebih bagi anda yang menganggap nyontek adalah hal biasa, bukan sesuatu yang besar. Tetapi bagi kami, nyontek bukan hal yang kecil, tetapi sesuatu yang sangat besar dan patut untuk dipermasalahkan. Membiarkan anak-anak kami menyontek saat ulangan atau ujian sama halnya membiarkan mereka menjadi pencuri, menjadi maling. Apa jadinya mereka kelak jika sejak kecil mereka sudah terbiasa berbuat curang, terbiasa mencuri, terbiasa mengambil sesuatu yang bukan haknya, terbiasa mengambil hak orang lain?
Mungkin para pejabat yang saat ini menjadi koruptor bukan sepenuhnya salah mereka, bisa jadi kita pendidik ikut andil di dalamnya. Mungkin ketika mereka masih kecil, ketika mereka masih di bangku sekolah, kita para pendidik lupa mengingatkan mereka pentingnya sebuah kejujuran. Kita biarkan saja mereka ketika tahu mereka berbuat curang. Bahkan terkadang untuk sebuah kata yang bernama “LULUS”, justru kita yang mengajarkan mereka untuk berbuat curang. Astaghfirullah…mudah-mudahan Engkau ampuni kesalahan kami ya Allah.

Yang kami lakukan hari itu hanyalah sedikit dari usaha kami untuk mengingatkan anak-anak kami akan pentingnya sebuah kejujuran. Kami tidak ingin kejujuran menjadi barang langka. Kami hanya ingin jika kelak menjadi apapun mereka, mereka menjadi profeional-profesional yang jujur. Kami tidak ingin mereka menjadi orang-orang yang bisa menghalalkan segala cara untuk mendaptkan keinginan mereka. Kami ingin mereka menjadi putera-putera bangsa yang kelak akan membangun bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik. Kami tidak ingin anak-anak kami menjadi para koruptor yang akan menghancurkan negeri sendiri. Naudzubillah…

Akhir kata, saya teringat sebuah ayat “Faman ya’mal mitsqala dzarratin khairay yarah, waman ya’mal mitsqaala dzarratin syarray yarah.”

“Maka barangsiapa berbuat kebaikan sebarat zarrah (biji sawi/atom)) pun, niscaya kelak dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan seberat zarrah (biji sawi/atom) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Wallahu a’lam bishshawaab.

*) Guru SDBI Al Hikmah
Selengkapnya......

Rabu, 15 April 2009

Cenderung menirukan apa yang dia lihat dan dengar

Alex Murgito *)


Menurut pendapat para ahli pendidikan dan psikologi, anak cenderung menirukan apa yang dia lihat dan dengar. Dia tidak akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lihat dan dia dengar.

Sebagai ilustrasi sederhana, anak yang terlahir dalam kondisi tuna rungu, tidak akan
bisa berbicara (berucap) sesuai dengan bahasa di lingkungannya. HAl ini karena dia tidak pernah merekam bahasa yang seharusnya digunakan dan didengarkan.
Seorang anak yang terlahir normal, jika tidak mengalami gangguan pada alat ucap, bisa berbicara dan berkomunikasi selayaknya lingkungan tempat dia tumbuh. Hal ini karena telinganya bisa merekam apa yang ada di sekitarnya. Hal itu juga terjadi pada penglihatan.
Peniruan itu, jika berlangsung terus menerus akan terekam pada alam bawah sadarnya dan terbawa sampai dia dewasa. kelak, sesuatu yang terekam di alam bawah sadar itu yang akan mempengaruhinya dalam menentukan keputusan yang harus diambil.
Alhamdulillah jika yang didengar dan dilihat adalah sesuatu yang positif, seperti bacaan Alquran, kata-kata yang memotivasi, cara bekerja keras, dan beribadah, dan lain-lain, maka, alam bawah sadarnya akan merekam sesuatu yang positif. akhirnya akan membentuk sikap positif. Sebaliknya, jika yang dia lihat dan dengar adalah hal negatif, seperti kata-kata menghujat, ekspresi marah, kata-kata kotor, dan lain-lain, tentu yang terekam pada alam bawah sadarnya adalah hal yang demikian.
MAna yang lebih bermanfaat untuk masa kehidupan ketika dia dewasa? Tentu rekaman yang positif karena itu akan membentuk sikap dan pola pikir positif.
Dengan kondisi kehidupan bangsa yang demikian (banyak hal negatif di lingkungan, seperti kata-kata kotor, mental tidak bisa menerima kekalahan, bohong, membuang sampah sembarangan, pengecut, dan sebagainya), Apakah hal positif bisa direkam?
Bisa. caranya adalah: pertama, buat kondisi positif pada lingkungan anak, mulai dari sekolah hingga rumah dan tempat bermain, seperti disiplin waktu, menjaga kebersihan, selalu melakukan yang positif, tidak berbicara kotor, dan sebagainya.
kedua, jauhkan perilaku negatif dari diri anak. salah satu caranya adalah dengan
meminimalkan hubungan si anak dngan akses televisi, media massa, dan berbagai sumber hal negatiuf.
Untuk mendapatkan kedua hal itu, sekolah dengan sistem fullday school sangat membantu.
Mengapa? alasannya, sekolah tersebut mampu menjaga anak dari pengaruh negatif karena hidup anak pada saat sadar dihabiskan dengan sistem yang positif dan mendukung perilaku positif. Sehingga hal negatif yang membahaykan tidak terekam oleh alam bawah sadar anak.

*) Guru SDBI Al Hikmah
Selengkapnya......

Senin, 13 April 2009

Mewujudkan RSDBI Di Daerah Sebagai Langkah Besar Revolusi Pendidikan

M. Ridwan *)

Keberadaan Rintisan Sekolah Dasar Bertaraf Internasional atau disingkat RSDBI di Propinsi Jawa Timur masih dapat dihitung dengan lima jari. Padahal tahun 2025 sesuai dengan visi sistem pendidikan nasional yakni menghasilkan insan Indonesia cerdas dan kompetitif tinggal hitungan waktu untuk kita lalui bersama. Usaha mewujudkan RSDBI di daerah-daerah adalah sebagai sarana belajarnya generasi-generasi yang memiliki bakat alam luar biasa yang kurang dapat perhatian serius dari semua pihak untuk disiapkan menghadapi dunia depan. Hal ini akan berdampak terjadinya revolusi dunia pendidikan Indonesia apabila mereka berhasil exelent menempuh belajar dan memperoleh pengalaman yang layak.

RSBI kemudian menjadi SBI untuk jenjang SMP atau SMA hampir di setiap daerah kabupaten/kota apalagi di kota besar diadakan. Tujuannya adalah untuk menampung siswa-siswi yang memiliki kemampuan kecerdasan lebih dalam belajarnya. Sehingga di suatu ketika bangsa ini membutuhkan akan segera disiapkan untuk digunakan membangun bangsa. Tetapi mengapa yang semarak hanyalah jenjang SMP dan SMA yang bergelar SBI ? Padahal di jenjang SD itu ada dan memang harus diadakan karena jenjang sekolah ini merupakan jenjang dasar untuk melangkah ke jenjang selanjutnya. Menurut DR. Drs. M. Hoesnan, M.Pd. kepala seksi pembinaan TK-SD Dirjen Dasmen Dinas Pendidikan Nasional Jakarta, saat ini pemerintah memiliki dana yang tersedia untuk 1700an SD yang ingin melebur dirinya menjadi RSDBI. Pada tahun 2008-2009 ini masih sedikit sekolah dasar di seluruh Indonesia yang memperoleh dana tersebut.
Kita tengok sejenak apa syarat dan ketentuan untuk menjadi sekolah berlabel rintisan SDBI selanjutnya menjadi SDBI. SDBI adalah sekolah jenjang SD yang secara operasional harus berstandart internasional, artinya sekolah ini harus memiliki sarana dan prasarana serta sumber daya pengajar yang berkualitas. Sarana prasarana meliputi sekolah harus memiliki laboratorium bahasa, laboratorium computer. Kelas disiapkan memiliki kelengkapan ICT semisal seperangkat computer, televisi, player VCD/DVD, LCD, sebagai penunjang KBM. Luas wilayah lingkungan sekolah termasuk di dalamnya gedung, lapangan olah raga, tempat parkir, harus lebih dari 1 ha. Belum lagi SDM pengajar harus disiapkan menguasai bahasa Inggris pasif maupun aktif untuk percakapan dalam KBM sebagai bahasa pengantar pembelajaran, serta siap mengembangkan diri. Sarana penunjang lainnyapun harus sedemikian pula dipersiapkan berstandart internasional seperti perpustakaan yang memadai dan layak. Koleksi buku – buku harus melebihi angka 1000 judul buku maupun jurnal. Melihat dari persyaratan dan ketentuan di atas tentu hanya sekolah-sekolah SD negeri/swasta yang besar dan kaya saja yang mampu menyiapkan persyaratan tersebut Tentu SD ini berada di kota-kota besar seperti Surabaya. Meskipun pemerintah tidak memberikan dana untuk persiapan menuju RSDBI, tetapi mereka berkecukupan dan mampu membiayai sendiri. Nah apakah SD-SD di daerah memenuhi kriteria tersebut untuk memenuhi label RSDBI ?


Belajar Pengalaman Lintang
Sosok Lintang dalam film Laskar Pelangi adalah sosok siswa yang memiliki kemampuan kecerdasan lebih. Dia belajar di sekolah SD kecil di daerah pelosok tanpa fasilitas yang sangat kurang memadai. Dia lebih unggul dan brilian dibandingkan teman-teman sekelasnya. Tetapi pada akhirnya dia menerima nasib yang semestinya bukan harapan dan impiannya. Ini adalah kejadian nyata yang sering kita jumpai di daerah-daerah. Banyak anak-anak yang dilahirkan dengan kemampuan dan bakat dari alam yang melebihi kecerdasan anak pada umumnya menerima pendidikan kurang layak. Mereka bersekolah di SD negeri/swasta kecil dan diajar dan dididik oleh guru yang berjumlah sedikit dengan kemampuan biasa. Sarana prasarana untuk menunjang proses belajar sama sekali tidak maksimal dan terkesan seadanya. Jangankan computer, koleksi buku perpustakaannya hanya menunjukkan angka 50-100 judul buku dan sudah dikatakan baik. Mereka dihadapkan pada kondisi yang menyedihkan dalam haknya memperoleh pendidikan yang layak tidak terpenuhi. Akhir cerita nasib mereka menjadi orang-orang yang biasa tanpa memiliki kemampuan kreatif untuk mengisi pembangunan bangsa ini, lebih tragis lagi menjadi sampah masyarakat. Inilah kondisi sebagian atau sepenuhnya kendala yang dihadapi SD-SD standart daerah dalam memenuhi kebutuhan siswanya.
Membangun sarana dan prasarana pendidikan tidaklah mudah bagi pemerintah daerah untuk mewujudkan yang terbaik untuk masyarakat. Apalagi usaha untuk memberi pelatihan bagi guru-guru agar mereka menjadi SDM yang unggul membutuhkan anggaran dana yang tidak sedikit. Akibatnya tidaklah mungkin mendirikan RSDBI di daerah/kota kecil walaupun hanya satu sekolah saja. Tetapi apakah semua pihak akan berdiam diri sambil menunggu datangnya keajaiban untuk merubah semua ini?

Mencari Team Work
Mewujudkan RSDBI sebenarnya sangat mudah, walaupun hanya satu sekolah yang dijadikan percontohan RSDBI di tiap-tiap kabupaten/kota di Jawa Timur. Solusi utama adalah perlu kerjasama tim yang solid dan kuat untuk mengadakan dan mewujudkan RSDBI antara Pemerintah kabupaten/kota dengan pihak yang berkompeten dalam mengurusi pendidikan dengan syarat mereka semua memiliki tujuan yang sama yakni ingin memajukan pendidikan di daerahnya. Tidak perlu menunggu anggaran dari pemerintah pusat, semua harus diselesaikan pemerintah daerah dan perlu sedikit kreatifitas untuk mengatasi persoalan ini. Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan kabupaten/kota terlebih dahulu membuat anggaran APBD untuk pendidikan maksimal 20% ataupun disesuaikan dengan kondisi daerah. Hal ini sesuai amanat undang-undang Sisdiknas serta keputusan pemerintah pusat menaikkan dana anggaran pendidikan sebesar 20% mulai tahun 2009. Kemudian Pemerintah kabupaten/kota bekerjasama dengan lembaga-lembaga pelatihan untuk melatih kemampuan guru pengajar di jenjang SD. Pelatihan ini harus melibatkan semua komponen termasuk guru SD yang berbakat dan mau berkembang yang menjadi obyek pelatihan bukan diselewengkan ke pihak lain demi kepentingan individu. Pemerintah daerah juga harus pintar melobi pengusaha swasta daerah untuk menjalin kerjasama membangun sarana prasarana sekolah yang akan dijadikan percontohan RSDBI. Katakanlah menjadikan SD yang sudah ada dahulu untuk disetarakan SSN (Sekolah Standart Nasional) bila sulit untuk membangun dan mendirikan SD baru. Selanjutnya, mulai mencari bibit-bibit unggul yang akan dididik dan ditempa menjadi siswa-siswa yang mampu mengubah potensi daerah masing-masing. Tetapi tidak hanya sekedar mendirikan RSDBI yang memiliki tujuan sesaat dan sama dengan SD-SD standart biasa. Visi dan Misi harus jelas dan dilaksanakan agar ada bedanya RSDBI dengan SD standart biasa. Subhanallah, bila ini terjadi dan terwujud kondisi pemerintahan, perekonomian, dan pembangunan di tiap-tiap kabupaten/kota di Jawa Timur akan mengalami revolusi besar-besaran dalam arti positif kelak di suatu masa. Negara ini akan bangkit kembali dari keterpurukan yang terlalu lama. Semoga langkah kita dengan niat yang suci diridhoiNya.

*) Guru IPS SDBI Al Hikmah
Selengkapnya......

Selasa, 31 Maret 2009

Alhamdulillah Rizky Raih Peringkat I Olympiade Matematika Tingkat Kota Surabaya


Alhamdulillah berkat usaha keras, do'a, dan dukungan dari semua pihak, akhirnya Mohammad Rizky Aulia Bisri kelas 5 SD Al Hikmah behasil meraih Peringkat I Olympiade matematika yang diselenggarakan oleh Diknas Kota Surabaya.
Olympyade yang diikuti oleh 31 perwakilan Kecamatan Sekota Surabaya, diikuti oleh sekitar 186 anak untuk Olympiade Matematika dan Sains. Mudah-mudahan Rizky mampu menunjukkan prestasinya di Tingkat Propinsi maupun Tingkat Nasional, semoga, amiin.
Selengkapnya......

Pramasari Rajanna Masuk 6 Besar Olympiade Sains


Alhamdulillah Pramasari Rajanna E Siswi kelas 5 SD Al Hikmah masuk 6 besar dalam even Olympiade Sains yang diselenggarakan oleh Diknas Kota Surabaya 30 Maret 2009 kemarin. Berikutnya akan mendapat bimbingan oleh Diknas untuk persiapan Olympiade Tingkat Propinsi Jawa Timur. Selengkapnya......

Senin, 30 Maret 2009

SD Al Hikmah Tuan Rumah Olympiade Matematika dan Sains


Salah satu sudut ruang kelas SD Al Hikmah yang digunakan untuk pelaksanaan Olympiade Matematika dan Sains yang diselenggarakan oleh Diknas Kota Surabaya pada hari Senin, 30 Maret 2009 mulaai pukul 08.00 - 16.00 WIB. Menurut Ibu Dra. Eko Prasetyoningsih, M. Pd. Kepala Bidang DIKDAS, juga selaku Ketua Panitia mengatakan :
"Olympiade ini bertujuan untuk menggali bibit-bibit unggul dari Kota Pahlawan Surabaya, yang diharapkan mampu untuk mewakili Kota Surabaya, Tingkat Propinsi Jatim, Tingkat Nasional, dan bahkan Tingkat Internasional". Semoga Olympiade ini diikuti dengan penuh sportifitas dan kejujuran dari semua pihak.
Selengkapnya......

Suasana Haru dan Bahagia Mewarnai Pengumuman PMB di Al Hikmah


Adalah saat yang diunggu-tunggu oleh calon wali murid Al Hikmah, Sabtu, 28 Maret 2009 tepat pukul 08.00 WIB secara serentak mulai Kelompok Bermain, TK, SD, SMP, dan SMA diumumkan hasil observasi / Tes penerimaan di Al Hikmah. Berikut adalah salah satu suasana haru, bahagia, dan tegang mewarnai perasaan anak-anak dan wali murid yang melihat langsung pengumuman di SD Al Hikmah.


Selengkapnya......

Jumat, 27 Maret 2009

Potong Kuku Pun Berpahala

Oleh : Muniroh, Guru SDBI Al Hikmah

Tangan anda pernah dipukul dengan penggaris oleh guru gara-gara kuku panjang? jika pernah, maka anda mengalami nasib yang sama dengan saya. Tapi itu dulu sekali ketika saya masih ada di bangku SD dan SMP. Bukannya tidak tahu bahwa membiarkan kuku panjang dan hitam itu jorok, tapi ya...namanya juga masih anak-anak. Banyak lupanya sama hal yang begituan karena yang ada di benak anak-anak ya cuma main, main dan main. Begitu tiba-tiba di sekolah kepala sekolah mengadakan razia kuku ke setiap kelas, baru deh bingungnya bukan main. Biar tidak kena pukul, berbagai macam cara dilakukan. Ada yang cepet-cepet kukunya dipotong pakai gunting (gunting biasa, karena gunting kuku masih langka saat itu), ada yang pakai silet, dan jalan terakhir kalau terpaksa tidak ada gunting dan silet, ya pakai gigi. Itu pun kalau keburu. kalau ga' keburu, "ndakk!" alamat deh kena pukul garisan panjang.

Bisa jadi di beberapa sekolah hal tersebut masih anda jumpai sampai saat ini. Padahal sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi. Satu hal yang saya pelajari dari sekolah tempat saya sekarang mengajar, bahwa ada cara yang lebih baik untuk membuat anak-anak mau memotong kuku tanpa harus dipaksa atau ditakut-takuti dengan pukulan. Yaitu melalui pembiasaan. Dan sejauh yang saya amati itu lebih efektif daripada melalui ancaman dengan pukulan.

Namun, pembiasaan yang seperti itu tidak instan. Anak-anak terlebih dahulu diberi pengertian tentang betapa pentingnya memotong kuku. Terlebih lagi bagi seorang muslim memotong kuku merupakan salah satu fitrah dan sunnah rasul yang mesti senantiasa dilakukan di setiap hari jum'at. Artinya memotong kuku adalah bagian dari ibadah. Dan otomatis karena itu ibadah berarti kalau dilakukan dengan ikhlas pasti dapat pahala. Dalam Islam juga seringkali digemborkan bahwa kebersihan sebagian dari iman. Bagaimana imannya jadi baik kalau menjaga kebersihan kuku saja tidak bisa.

Seiring dengan pemahaman hal tersebut terhadap anak-anak, pembiasaan juga dilakukan dengan kontrol yang baik, konsisten dan kontinyu dari para guru.

Jika anda datang ke sekolah saya pada hari jum'at pagi, maka saya dapat pastikan anda akan menjumpai beberapa anak-anak tanpa diperintah mereka akan menunjukkan kedua tangannya kepada ustad/ustadzah yang telah berdiri di ambang pintu untuk menyambut kehadiran mereka di kelas. Bagi mereka yang merasa kukunya belum bersih dengan sendirinya mereka akan minggir untuk tetap berdiri di luar untuk memotong kuku sampai bersih. jika tidak punya pemotong kuku sendiri, mereka akan sabar menunggu temannya selesai memotong agar dapat bergantian meminjam pemotong kukunya. Pemandangan ini akan anda jumpai di setiap jum'at pagi.

Apakah ada rasa takut tampak di wajah mereka yang berada di luar? saya pastikan tidak akan ada. Karena memang mereka tidak sedang dihukum. Mereka hanya perlu memotong kuku mereka sampai bersih dalam rangka menunaikan sunnah rasul di setiap hari jum'at, kemudian mereka dapat masuk kembali ke kelas seperti biasa. Kadang bagi sebagian mereka yang sudah mulai tumbuh remaja dan ingin memelihara kuku yang panjang yang indah sebagaimana tren yang ada, kegiatan ini jadi tidak menyenangkan. Mereka akan mencoba merayu ustadz/ustadzahnya untuk diizinkan memelihara kuku panjang. Di sinilah tugas ustadz/ustadzah untuk meyakinkan kembali mereka, dan biasanya selalu berhasil. Pada akhirnya mereka akan memotong kuku mereka meskipun harus melalui diskusi panjang.


Andai dari dulu saya tahu bahwa potong kuku berpahala pasti saya akan dengan senang hati melakukannya, tanpa harus kena pukul penggaris panjang. Aduh, sakit! seakan-akan sakitnya masih terasa sampai hari ini.

Sebagai bahan renungan, baginda Rasul saw. pernah bersabda:

"Fitrah manusia ada lima yaitu dikhitan (disunat), mencukur rambut kemaluan, menggunting (merapikan) kumis, memotong kuku (kuku tangan dan kaki) serta mencabuti bulu ketiak." (HR. Bukhari)


"Wahai Abu Hurairah, potonglah (perpendek) kuku-kukumu. Sesungguhnya setan mengikat (melalui) kuku-kuku yang panjang." (HR. Ahmad)


Selengkapnya......

Rabu, 25 Maret 2009

Olimpiade Sastra, Sebuah Langkah Maju

[ JP Minggu, 22 Maret 2009 ]
Oleh : Dwi Indriyanti, Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SD Al Hikmah, Surabaya

Rencana Depdiknas menggelar olimpiade sastra untuk tingkat SD pada 2009 merupakan terobosan di dunia pendidikan. Selama ini, olimpiade identik dengan dua bidang studi, yakni matematika dan sains. Penyelenggaraan dua olimpiade tersebut bahkan sudah menjadi agenda tahunan. Karena itu, rencana tersebut dapat dikatakan langkah maju.

Sudah jamak dalam pandangan orang awam, bahkan mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan, bahwa kepintaran seseorang dilihat dari perolehan nilai matematika atau sains. Anak yang mendapatkan nilai tinggi pada mata ajar tersebut mendapat label pandai atau cerdas. Sedangkan, mereka yang memiliki kelebihan di bidang humaniora (sosial), bahasa, dan sastra tetap dianggap memiliki "kekurangan."

Sering, anak atau guru yang mumpuni di dua bidang itu (matematika/sains) dielu-elukan saat mereka memenangi kejuaraan. Sekolah juga rela mengeluarkan biaya besar untuk mencetak jawara-jawara dua mata pelajaran tersebut. Sebaliknya, siswa yang menang lomba puisi diperlakukan beda, dianggap "penggembira", bahkan tak jarang dipandang sebelah mata.

Ada beberapa hal yang melatari terpinggirkannya pengajaran sastra. Pertama, persentase pengajaran sastra pada kurikulum kita kecil sekali dibandingkan mata pelajaran lain. Pengajaran sastra di SD boleh dibilang hanya sebagai pelengkap. Di kelas 4, misalnya, pengajaran sastra hanya ada di semester 2, itu pun dengan porsi kecil. Jumlah jam pengajaran bahasa dan sastra juga lebih sedikit dibandingkan mata pelajaran lain.

Kedua, kebanyakan pengajar hanya mengajarkan sastra sebatas teori dan hafalan, tidak menekankan pada apresiasi. Boleh jadi, itu disebabkan guru kurang memiliki kemampuan dan apresiasi di bidang sastra. Karena pengajarannya kurang menarik, siswa jadi tak tertarik.

Ketiga, kurangnya bahan bacaan sastra. Bagi sekolah yang memiliki perpustakaan memadai, ketersediaan buku bacaan sangat mencukupi. Sehingga, siswa dapat membaca beragam buku sastra. Namun, sebagian besar sekolah belum memiliki perpustakaan yang baik. Itu diperparah rendahnya minat baca.

Keempat, ada pandangan bahwa mempelajari satra hanya buang-buang waktu, tidak ada gunanya. Jurusan IPA juga dipandang jauh lebih baik daripada jurusan IPS dan bahasa. Karena itu, pengembangan di bidang sastra dianggap tidak perlu. Lebih ironis lagi, pembinaan guru matematika dan IPA lebih diutamakan daripada guru bahasa dan sastra.

Melihat marginalisasi sastra tersebut, rasanya perlu kita renungkan beberapa hal berikut. Pertama, sesungguhnya pengajaran sastra memiliki peran besar dalam penanaman nilai kehidupan dan kemanusian pada siswa. Simak saja anekdot berikut. Mengapa orang Jepang bisa menjadi negara maju, sementara kita tidak? Yang membedakan adalah saat kita kecil dulu, yang sering diperdengarkan kepada anak adalah cerita Kancil Mencuri Ketimun. Yang didengar anak Jepang, di sisi lain, adalah cerita Katak Hendak Menjadi Raja. Karena itu, bangsa kita punya sederet koruptor.

Bisa jadi, itu bukan sekadar anekdot. Pengajaran sastra yang memotivasi memang merupakan investasi masa depan bagi moral bangsa, demikian pula sebaliknya. Orang bijak berkata, jika seseorang gemar membaca karya sastra, dia akan jadi orang yang dapat menghargai orang lain. Karena itu, dunia akan menjadi damai, tak ada pertengkaran, tak ada perang.

Kedua, penghargaan terhadap karya sastra merupakan pengakuan bahwa sastra setara dengan ilmu lain. Di negara maju, penghargaan terhadap karya sastra dan sastrawan jauh lebih baik. Bahkan, saat pelantikan salah satu presiden Amerika Serikat, pernah ditampilkan pembacaan puisi. Karena itu, buku sastra berkembang pesat. J.K. Rowling, penulis Harry Potter, juga menjadi salah satu orang terkaya di Inggris.

Di Indonesia, pengakuan terhadap karya sastra mulai menunjukkan peningkatan. Salah satunya adalah fenomena Laskar Pelangi. Penulis novel itu menerima royalti tak kurang dari Rp 4,5 miliar (Edi S. Mulyanta, 24/11).

Karena itu, langkah pemerintah mengadakan olimpiade sastra tingkat SD sebagai penghargaan terhadap siswa yang mendalami satra perlu didukung. Sebagai bagian dari elemen pendidikan, kita perlu mengupayakan agar wajah pendidikan tak lagi berpihak pada mata ajar tertentu. Sehingga, kita bisa menerima talenta siswa sebagai kelebihan yang sama. (soe)


Selengkapnya......

Kamis, 19 Maret 2009

Student Fair 2009





Selengkapnya......

Jumat, 13 Maret 2009

cinta adat nusantara


Indonesia adalah negara yang kaya. Kaya suku bangsa, adat-istiadat, bahasa, makanan daerah dan lain-lain. Ada banyak cara untuk lebih dekat dengan budaya adiluhung berbagai suku di nusantara. Seperti halnya yang baru-baru ini dilaksanakan di SD Al Hikmah Surabaya. Mereka punya cara lain dalam menjunjung tinggi dan mencintai adat-istiadat dari berbagai suku bangsa di nusantara.

Sebagai salah satu kegiatan dalam tematik “Daerahku” siswa-siswi SD Al Hikmah melaksanakan kegiatan aku cinta adat nusantara. Acara yang dilaksanakan pada hari Kamis (26/03) itu diikuti oleh seluruh siswa kelas 3 SD Al Hikmah. Semua siswa memakai pakaian adat dari semua daerah. Ada yang berpakaian ala sakerah dari Madura, bahkan ada pula yang seperti pahlawan dari Aceh, Teuku Umar. Tidak hanya itu, acara yang diawali dengan parikan dan jula-juli suroboyoan itu juga di isi dengan festival makanan khas dari berbagai daerah dan musik adat. Setiap kelompok yang terdiri dari 4 siswa menampilkan lagu daerah dengan diiringi musik adat masing-masing.

Acara yang berlangsung meriah itu diakhiri dengan makan bersama makanan khas daerah. Lebih dari 50 jenis masakan khas daerah yang disajikan mulai dari gaplek, lemet, sampai bikang ambon tersedia. Anak-anak mencicipi satu persatu makanan itu, “tak hanya hot dog yang enak, ini juga lezat”, ungkap Amir sambil melahap lupis khas jawa timur. (bee)


Selengkapnya......

kontak via email : sdalhikmah@gmail.com