Visi & Misi

Visi
Menjadikan siswa berakhlak karimah, berprestasi akademik optimal.

Misi
Menjadikan lembaga pendidikan Islam yang layak dan mudah di contoh.

Dengan senantiasa meneladani Rasulullah Saw, mari tingkatkan terus semangat berbudi sekaligus berprestasi internasional

Selasa, 31 Maret 2009

Alhamdulillah Rizky Raih Peringkat I Olympiade Matematika Tingkat Kota Surabaya


Alhamdulillah berkat usaha keras, do'a, dan dukungan dari semua pihak, akhirnya Mohammad Rizky Aulia Bisri kelas 5 SD Al Hikmah behasil meraih Peringkat I Olympiade matematika yang diselenggarakan oleh Diknas Kota Surabaya.
Olympyade yang diikuti oleh 31 perwakilan Kecamatan Sekota Surabaya, diikuti oleh sekitar 186 anak untuk Olympiade Matematika dan Sains. Mudah-mudahan Rizky mampu menunjukkan prestasinya di Tingkat Propinsi maupun Tingkat Nasional, semoga, amiin.
Selengkapnya......

Pramasari Rajanna Masuk 6 Besar Olympiade Sains


Alhamdulillah Pramasari Rajanna E Siswi kelas 5 SD Al Hikmah masuk 6 besar dalam even Olympiade Sains yang diselenggarakan oleh Diknas Kota Surabaya 30 Maret 2009 kemarin. Berikutnya akan mendapat bimbingan oleh Diknas untuk persiapan Olympiade Tingkat Propinsi Jawa Timur. Selengkapnya......

Senin, 30 Maret 2009

SD Al Hikmah Tuan Rumah Olympiade Matematika dan Sains


Salah satu sudut ruang kelas SD Al Hikmah yang digunakan untuk pelaksanaan Olympiade Matematika dan Sains yang diselenggarakan oleh Diknas Kota Surabaya pada hari Senin, 30 Maret 2009 mulaai pukul 08.00 - 16.00 WIB. Menurut Ibu Dra. Eko Prasetyoningsih, M. Pd. Kepala Bidang DIKDAS, juga selaku Ketua Panitia mengatakan :
"Olympiade ini bertujuan untuk menggali bibit-bibit unggul dari Kota Pahlawan Surabaya, yang diharapkan mampu untuk mewakili Kota Surabaya, Tingkat Propinsi Jatim, Tingkat Nasional, dan bahkan Tingkat Internasional". Semoga Olympiade ini diikuti dengan penuh sportifitas dan kejujuran dari semua pihak.
Selengkapnya......

Suasana Haru dan Bahagia Mewarnai Pengumuman PMB di Al Hikmah


Adalah saat yang diunggu-tunggu oleh calon wali murid Al Hikmah, Sabtu, 28 Maret 2009 tepat pukul 08.00 WIB secara serentak mulai Kelompok Bermain, TK, SD, SMP, dan SMA diumumkan hasil observasi / Tes penerimaan di Al Hikmah. Berikut adalah salah satu suasana haru, bahagia, dan tegang mewarnai perasaan anak-anak dan wali murid yang melihat langsung pengumuman di SD Al Hikmah.


Selengkapnya......

Jumat, 27 Maret 2009

Potong Kuku Pun Berpahala

Oleh : Muniroh, Guru SDBI Al Hikmah

Tangan anda pernah dipukul dengan penggaris oleh guru gara-gara kuku panjang? jika pernah, maka anda mengalami nasib yang sama dengan saya. Tapi itu dulu sekali ketika saya masih ada di bangku SD dan SMP. Bukannya tidak tahu bahwa membiarkan kuku panjang dan hitam itu jorok, tapi ya...namanya juga masih anak-anak. Banyak lupanya sama hal yang begituan karena yang ada di benak anak-anak ya cuma main, main dan main. Begitu tiba-tiba di sekolah kepala sekolah mengadakan razia kuku ke setiap kelas, baru deh bingungnya bukan main. Biar tidak kena pukul, berbagai macam cara dilakukan. Ada yang cepet-cepet kukunya dipotong pakai gunting (gunting biasa, karena gunting kuku masih langka saat itu), ada yang pakai silet, dan jalan terakhir kalau terpaksa tidak ada gunting dan silet, ya pakai gigi. Itu pun kalau keburu. kalau ga' keburu, "ndakk!" alamat deh kena pukul garisan panjang.

Bisa jadi di beberapa sekolah hal tersebut masih anda jumpai sampai saat ini. Padahal sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi. Satu hal yang saya pelajari dari sekolah tempat saya sekarang mengajar, bahwa ada cara yang lebih baik untuk membuat anak-anak mau memotong kuku tanpa harus dipaksa atau ditakut-takuti dengan pukulan. Yaitu melalui pembiasaan. Dan sejauh yang saya amati itu lebih efektif daripada melalui ancaman dengan pukulan.

Namun, pembiasaan yang seperti itu tidak instan. Anak-anak terlebih dahulu diberi pengertian tentang betapa pentingnya memotong kuku. Terlebih lagi bagi seorang muslim memotong kuku merupakan salah satu fitrah dan sunnah rasul yang mesti senantiasa dilakukan di setiap hari jum'at. Artinya memotong kuku adalah bagian dari ibadah. Dan otomatis karena itu ibadah berarti kalau dilakukan dengan ikhlas pasti dapat pahala. Dalam Islam juga seringkali digemborkan bahwa kebersihan sebagian dari iman. Bagaimana imannya jadi baik kalau menjaga kebersihan kuku saja tidak bisa.

Seiring dengan pemahaman hal tersebut terhadap anak-anak, pembiasaan juga dilakukan dengan kontrol yang baik, konsisten dan kontinyu dari para guru.

Jika anda datang ke sekolah saya pada hari jum'at pagi, maka saya dapat pastikan anda akan menjumpai beberapa anak-anak tanpa diperintah mereka akan menunjukkan kedua tangannya kepada ustad/ustadzah yang telah berdiri di ambang pintu untuk menyambut kehadiran mereka di kelas. Bagi mereka yang merasa kukunya belum bersih dengan sendirinya mereka akan minggir untuk tetap berdiri di luar untuk memotong kuku sampai bersih. jika tidak punya pemotong kuku sendiri, mereka akan sabar menunggu temannya selesai memotong agar dapat bergantian meminjam pemotong kukunya. Pemandangan ini akan anda jumpai di setiap jum'at pagi.

Apakah ada rasa takut tampak di wajah mereka yang berada di luar? saya pastikan tidak akan ada. Karena memang mereka tidak sedang dihukum. Mereka hanya perlu memotong kuku mereka sampai bersih dalam rangka menunaikan sunnah rasul di setiap hari jum'at, kemudian mereka dapat masuk kembali ke kelas seperti biasa. Kadang bagi sebagian mereka yang sudah mulai tumbuh remaja dan ingin memelihara kuku yang panjang yang indah sebagaimana tren yang ada, kegiatan ini jadi tidak menyenangkan. Mereka akan mencoba merayu ustadz/ustadzahnya untuk diizinkan memelihara kuku panjang. Di sinilah tugas ustadz/ustadzah untuk meyakinkan kembali mereka, dan biasanya selalu berhasil. Pada akhirnya mereka akan memotong kuku mereka meskipun harus melalui diskusi panjang.


Andai dari dulu saya tahu bahwa potong kuku berpahala pasti saya akan dengan senang hati melakukannya, tanpa harus kena pukul penggaris panjang. Aduh, sakit! seakan-akan sakitnya masih terasa sampai hari ini.

Sebagai bahan renungan, baginda Rasul saw. pernah bersabda:

"Fitrah manusia ada lima yaitu dikhitan (disunat), mencukur rambut kemaluan, menggunting (merapikan) kumis, memotong kuku (kuku tangan dan kaki) serta mencabuti bulu ketiak." (HR. Bukhari)


"Wahai Abu Hurairah, potonglah (perpendek) kuku-kukumu. Sesungguhnya setan mengikat (melalui) kuku-kuku yang panjang." (HR. Ahmad)


Selengkapnya......

Rabu, 25 Maret 2009

Olimpiade Sastra, Sebuah Langkah Maju

[ JP Minggu, 22 Maret 2009 ]
Oleh : Dwi Indriyanti, Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SD Al Hikmah, Surabaya

Rencana Depdiknas menggelar olimpiade sastra untuk tingkat SD pada 2009 merupakan terobosan di dunia pendidikan. Selama ini, olimpiade identik dengan dua bidang studi, yakni matematika dan sains. Penyelenggaraan dua olimpiade tersebut bahkan sudah menjadi agenda tahunan. Karena itu, rencana tersebut dapat dikatakan langkah maju.

Sudah jamak dalam pandangan orang awam, bahkan mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan, bahwa kepintaran seseorang dilihat dari perolehan nilai matematika atau sains. Anak yang mendapatkan nilai tinggi pada mata ajar tersebut mendapat label pandai atau cerdas. Sedangkan, mereka yang memiliki kelebihan di bidang humaniora (sosial), bahasa, dan sastra tetap dianggap memiliki "kekurangan."

Sering, anak atau guru yang mumpuni di dua bidang itu (matematika/sains) dielu-elukan saat mereka memenangi kejuaraan. Sekolah juga rela mengeluarkan biaya besar untuk mencetak jawara-jawara dua mata pelajaran tersebut. Sebaliknya, siswa yang menang lomba puisi diperlakukan beda, dianggap "penggembira", bahkan tak jarang dipandang sebelah mata.

Ada beberapa hal yang melatari terpinggirkannya pengajaran sastra. Pertama, persentase pengajaran sastra pada kurikulum kita kecil sekali dibandingkan mata pelajaran lain. Pengajaran sastra di SD boleh dibilang hanya sebagai pelengkap. Di kelas 4, misalnya, pengajaran sastra hanya ada di semester 2, itu pun dengan porsi kecil. Jumlah jam pengajaran bahasa dan sastra juga lebih sedikit dibandingkan mata pelajaran lain.

Kedua, kebanyakan pengajar hanya mengajarkan sastra sebatas teori dan hafalan, tidak menekankan pada apresiasi. Boleh jadi, itu disebabkan guru kurang memiliki kemampuan dan apresiasi di bidang sastra. Karena pengajarannya kurang menarik, siswa jadi tak tertarik.

Ketiga, kurangnya bahan bacaan sastra. Bagi sekolah yang memiliki perpustakaan memadai, ketersediaan buku bacaan sangat mencukupi. Sehingga, siswa dapat membaca beragam buku sastra. Namun, sebagian besar sekolah belum memiliki perpustakaan yang baik. Itu diperparah rendahnya minat baca.

Keempat, ada pandangan bahwa mempelajari satra hanya buang-buang waktu, tidak ada gunanya. Jurusan IPA juga dipandang jauh lebih baik daripada jurusan IPS dan bahasa. Karena itu, pengembangan di bidang sastra dianggap tidak perlu. Lebih ironis lagi, pembinaan guru matematika dan IPA lebih diutamakan daripada guru bahasa dan sastra.

Melihat marginalisasi sastra tersebut, rasanya perlu kita renungkan beberapa hal berikut. Pertama, sesungguhnya pengajaran sastra memiliki peran besar dalam penanaman nilai kehidupan dan kemanusian pada siswa. Simak saja anekdot berikut. Mengapa orang Jepang bisa menjadi negara maju, sementara kita tidak? Yang membedakan adalah saat kita kecil dulu, yang sering diperdengarkan kepada anak adalah cerita Kancil Mencuri Ketimun. Yang didengar anak Jepang, di sisi lain, adalah cerita Katak Hendak Menjadi Raja. Karena itu, bangsa kita punya sederet koruptor.

Bisa jadi, itu bukan sekadar anekdot. Pengajaran sastra yang memotivasi memang merupakan investasi masa depan bagi moral bangsa, demikian pula sebaliknya. Orang bijak berkata, jika seseorang gemar membaca karya sastra, dia akan jadi orang yang dapat menghargai orang lain. Karena itu, dunia akan menjadi damai, tak ada pertengkaran, tak ada perang.

Kedua, penghargaan terhadap karya sastra merupakan pengakuan bahwa sastra setara dengan ilmu lain. Di negara maju, penghargaan terhadap karya sastra dan sastrawan jauh lebih baik. Bahkan, saat pelantikan salah satu presiden Amerika Serikat, pernah ditampilkan pembacaan puisi. Karena itu, buku sastra berkembang pesat. J.K. Rowling, penulis Harry Potter, juga menjadi salah satu orang terkaya di Inggris.

Di Indonesia, pengakuan terhadap karya sastra mulai menunjukkan peningkatan. Salah satunya adalah fenomena Laskar Pelangi. Penulis novel itu menerima royalti tak kurang dari Rp 4,5 miliar (Edi S. Mulyanta, 24/11).

Karena itu, langkah pemerintah mengadakan olimpiade sastra tingkat SD sebagai penghargaan terhadap siswa yang mendalami satra perlu didukung. Sebagai bagian dari elemen pendidikan, kita perlu mengupayakan agar wajah pendidikan tak lagi berpihak pada mata ajar tertentu. Sehingga, kita bisa menerima talenta siswa sebagai kelebihan yang sama. (soe)


Selengkapnya......

Kamis, 19 Maret 2009

Student Fair 2009





Selengkapnya......

Jumat, 13 Maret 2009

cinta adat nusantara


Indonesia adalah negara yang kaya. Kaya suku bangsa, adat-istiadat, bahasa, makanan daerah dan lain-lain. Ada banyak cara untuk lebih dekat dengan budaya adiluhung berbagai suku di nusantara. Seperti halnya yang baru-baru ini dilaksanakan di SD Al Hikmah Surabaya. Mereka punya cara lain dalam menjunjung tinggi dan mencintai adat-istiadat dari berbagai suku bangsa di nusantara.

Sebagai salah satu kegiatan dalam tematik “Daerahku” siswa-siswi SD Al Hikmah melaksanakan kegiatan aku cinta adat nusantara. Acara yang dilaksanakan pada hari Kamis (26/03) itu diikuti oleh seluruh siswa kelas 3 SD Al Hikmah. Semua siswa memakai pakaian adat dari semua daerah. Ada yang berpakaian ala sakerah dari Madura, bahkan ada pula yang seperti pahlawan dari Aceh, Teuku Umar. Tidak hanya itu, acara yang diawali dengan parikan dan jula-juli suroboyoan itu juga di isi dengan festival makanan khas dari berbagai daerah dan musik adat. Setiap kelompok yang terdiri dari 4 siswa menampilkan lagu daerah dengan diiringi musik adat masing-masing.

Acara yang berlangsung meriah itu diakhiri dengan makan bersama makanan khas daerah. Lebih dari 50 jenis masakan khas daerah yang disajikan mulai dari gaplek, lemet, sampai bikang ambon tersedia. Anak-anak mencicipi satu persatu makanan itu, “tak hanya hot dog yang enak, ini juga lezat”, ungkap Amir sambil melahap lupis khas jawa timur. (bee)


Selengkapnya......

Sabtu, 28 Februari 2009

A NEW ALIF HAS COME


Kiki Juara Olimpiade Matematika

Selalu ada kesempatan untuk berprestasi! Itulah tekad SD Al Hikmah dalam memotivasi semua unsur di dalamnya untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan umat Islam pada umumnya. Hal itu dibuktikan dengan berbagai kejuaraaan, terutama di bidang akademis telah meraih penghargaan baik di tingkat local maupun nasional, bahkan internasional. Seperti yang baru saja diraih oleh M Rizqi Aulia Bisri. Siswa kelas 5 B ini berhasil menyabet medali emas olimpiade matematika se Surabaya – Sidoarjo yang diselenggarakan di SD Raudlatul Jannah Sidoarjo.

Olimpiade matematika yang dilaksanakan pada hari Minggu (15/02) itu diikuti oleh 120 peserta dari sekolah-sekolah terbaik di Surabaya dan Sidoarjo. Setelah mengikuti berbagai tahapan seleksi akhirnya terpilih 5 besar untuk melaju ke babak Grand Final. Dari 5 peserta terbaik itu kemudian dipilihlah juara 1, 2, dan 3. Dan dipanggilah nama M Rizqi Aulia Bisri atau yang lebih akrab dipanggil Kiki sebagai juara satu.

Menurut Kiki, soal-soal dalam olimpiade ini tidak terlalu sulit karena ia sering diberi latihan soal-soal seperti itu di sekolah. Putra Drs. Buchori ini memang dari awal suka pelajaran matematika, terutama soal-soal menghitung modus. Tidak ada kiat khusus bagi siswa kelas 5 B ini dalam mempersiapkan lomba ini. Ia berharap ini akan menjadi titik awal untuk meraih prestasi lebih tinggi. “Setelah generasi Alif, yang bisa mencapai prestasi Internasional, kita harapkan Kiki adalah penggantinya yang mudah-mudahan bisa meraih prestasi lebih baik”, ungkap ust. Solichin selaku Waka Kesiswaan. Tiada henti untuk berprestasi, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan semangat siswa dan segaenap ustad dan ustadzah di SD Al Hikmah.(bee)


Selengkapnya......

SD BI AL HIKMAH: BEYOND EXPECTATION

Globalisasi dalam berbagai bidang adalah sebuah keniscayaan. Jarak dan waktu nantinya bukan menjadi menjadi halangan berarti untuk terus berkembang. Siapa yang lebih siap menghadapi masa depan itulah yang jadi pemenang. Mereka adalah generasi yang mampu menyesuaikan diri di belahan dunia manapun dan dalam budaya apa pun tanpa menanggalkan prinsip-prinsip dasar yang dianutnya.
Menyadari akan pentingnya kesiapan generasi menyambut globalisasi, SD Al Hikmah Surabaya mengambil langkah konkrit...
dengan menjadi sekolah dasar bertaraf internasional (SDBI). Ya.., terhitung sejak tahun ajaran 2008 – 2009 SD Al Hikmah telah resmi dan berhak menyandang sebutan SD BI Al Hikmah. Adalah Direktorat Pembinaan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar Diknas pusat yang menunjuk langsung dan member kepercayaan penuh kepada Al Hikmah untuk menjadi SD BI pertama di Surabaya dan satu dari empat sekolah di jawa timur. Bahkan, SD Al Hikmah yang merupakan satu-satunya sekolah swasta penyandang SD BI di Jatim menjadi coo0rdinator seluruh SD BI di wilayah pulau jawa yang berjumlah sekitar 20 sekolah
“Sebetulnya banyak sekolah baik yang mengirim proposal ke direktorat untuk dijadikan SDBI baik katagori mandiri maupun katagori binaan, akan tetapi hanya beberapa yang dipilih termasuk Al Hikmah karena sudah dikenal melalui prestasi sekolah, guru, maupun siswa baik tingkat nasional maupun internasional”, demikian ujar Ustad Gatot Sulanjono, kepala SD Al Hikmah Surabaya. SD Al Hikmah sendiri termasuk SD BI binaan diknas kategori existing development, artinya pengembangan sekolah yang sudah ada menjadi SD BI. “Sebetulnya proposal kita ke Diknas minta katagori mandiri, tetapi direspon lebih oleh diknas dengan memasukkan SD Al Hikmah dalam kelompok binaan. Tentu saja ini lebih dari yang kita harapkan karena dengan demikian ada bantuan-bantuan dari pemerintah yang memudahkan kita dalam operasional SD BI”, lanjut Ustad Gatot.
Sebagai tindak lanjut kepercayaan Direktorat Pembinaan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar Diknas pusat kepada SD Al Hikmah, pada tanggal 19 dan 20 Januari 2009 SD Al Hikmah ditunjuk menjadi tuang rumah sekaligus penyelenggara pertemuan 66 kepala sekolah SD BI se Indonesia. Pada kesempatan itu dimanfaatkan pula oleh para kepala sekolah untuk studi banding dan melihat secara langsung kesiapan SD Al Hikmah menyambut SD BI. “SD Al Hikmah sangat layak dijadikan pelopor pelaksanaan SD BI di Indonesia melihat berbagai program dan fasilitas yang sangat memadahi”, ungkap Drs. Wasiman, kepala SDN Pondok Labu 11, Jakarta Selatan saat studi banding ke SD Al Hikmah.
Dengan adanya status dan amanah baru ini SD Al Hikmah langsung membuat langkah percepatan dengan membentuk tim SD BI dan menetapkan langkah-langkah konrit baik jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk jangka pendek, tim yang diketuai oleh Ust. Bambang ini menunjuk 2 kelas rintisan yang memenuhi standar SD BI, yaitu kelas 3 B dan 3 C, ke depan akan berlanjut ke kelas kelas lain sam pai semua kelas menjadi kelas berstandar SD BI. “SD BI tidak sama seperti SBI pada jenjang SMP dan SMA. Kalau SMP dan SMA ada kelas SBI dan ada kelas regular, tetapi untuk SD BI semua kelas adalah kelas SBI”, demikian ungkap Ustad Bambang. Lebih lanjut, waka kurikulum kelas bawah tersebut juga mengatakan bahwa setelah tiga tahun berjalan InsyaAllah semua kelas di SD Al Hikmah sudah memenuhi standar SD BI.
Dari segi pembelajaran tidak ada perbedaan berarti antara kelas 3B, 3C, dengan kelas lain. Hanya saja di kelas tersebut lebih sering memakai bahasa Inggris untuk instruksi-instruksi sederhana dan buku pegangan tambahan berbahasa Inggris untuk pelajaran matematika, IPA, dan computer. Dari segi perlengkapan di kelas ada standar tertentu yang harus dipenuhi oleh dua kelas tersebut, yakni adanya fasilitas laptop, LCD, screen, dan sound system. Dengan demikian diharapkan pembelajaran nantinya lebih atraktif dan menjadikan siswa menjadi lebih aktif. Selain itu dengan adanya SD BI ini ada sarana baru yang dimiliki SD Al Hikmah dan bias dimanfaat oleh semua kelas, yaitu Laboratorium Multimedia. Laboratorium yang terletak di lantai 2 Graha Baitul Ilmi ini dilengkapi dengan computer set sejumlah siswa satu kelas beserta webcam, headset, LCD TV, dan perangkat sound system. Lab multi media ini bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran bahasa Inggris, computer IPA, dan pelajaran lainnya. Selain itu lab Multimedia juga menyediakan CD pembelajaran dari berbagai bidang studi.
Status SD Al hikmah sebagai SD BI juga menjadi tantangan tersendiri bagi para Ustad, Ustazah dan pada staf lainnya. Semua guru dan staf secara intensif mengup grade diri dengan pelatihan dan kegiatan yang diprogramkan sekolah, antara lain kursus bahasa Inggris dan ICT.
Ke depan, standar pembelajaran dan fasilitas di SD BI Al Hikmah sepenuhnya mengarah pada standar SBI yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris di samping bahasa Indonesia untuk pelajran matematika, IPA, dan computer, serta pembelajaran berbasis ICT.
Terakhir kepala SD Al Hikmah berpesan bahwa kita tidak akan berhenti di sini, akan selalu ada pembaharuan dalam system dan pembelajaran yang tujuannya adalah bagaimana anak-anak kita menjadi generasi bangsa yang siap mengahdapi tantangan zaman dengan tetap berpegang teguh pada Al Quran dan sunnah Rasul.(bee)
Selengkapnya......

PMRI IN AL HIKMAH IS IMPRESSIVE

Mantan Dirjen Pendidikan Swedia Berkunjung Ke SD Al Hikmah
Banyaknya penghargaan yang diraih oleh siswa maupun guru SD Al Hikmah Surabaya, terutama untuk bidang studi matematika menarik beberapa kalangan untuk mengunjunginya. Para tamu tidak hanya datang dari Jawa Timur dan sekitarnya, melainkan dari luar jawa, bahkan dari luar negeri. Salah satu tamu yang istimewa adalah Mr. Matt Ekholm, mantan dirjen pendidikan Negara Swedia yang berkunjung pada hari Senin kemarin (23/02). Dengan didampingi pakar matematika dari ITB yaitu DR. Bana Kartasasmita dan dari Unesa Prof. DR. Siti M Amin, Mr. Matt Ekholm dengan antusias melakukan audiensi dengan beberapa pengajar matematika di SD Al Hikmah.
Dalam kesempatan itu...
Mr. Matt Ekholm bertindak sebagai IAB (International Advisor Board) untuk pembelajaran PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia). Hal ini didasarkan karena SD Al Hikmah adalah sekolah model PMRI tingkat nasional. Selain itu, pembelajaran dengan model PMRI di SD Al Himah yang sudah berjalan enam tahun ini mendapat respon positif dari siswa, guru, dan wali murid yang dibuktikan dengan banyaknya siswa maupun guru berprestasi di bidang matematika.
“PMRI in Al HIkmah is impressive” demikian ungkap Matt Ekholm setelah mendengan deskripsi dan data-data pembelajaran matematika dengan PMRI. Beliau juga mengaku puas dengan keberhasilan Al Hikmah menggeser pola lama pembelajarabn matematika yang menekankan pada hasil dengan metode baru yang lebih menekankan pada inquiri dan proses.
Khusus untuk buku penghubung Mr. Matt Ekholm mengomentari dengan sebutan “One day Service”, artinya permasalahan antara wali murid dan guru bisa terselesaikan atau terjawab pada hari itu juga melalui buku penghubung. Acara yang berlangsung di ruang kepala sekolah itu diakhiri dengan ramah tamah dan melihat penghargaan-penghargaan yang pernah diraih oleh SD Al Hikmah. (Bee)
Selengkapnya......

kontak via email : sdalhikmah@gmail.com