Visi & Misi

Visi
Menjadikan siswa berakhlak karimah, berprestasi akademik optimal.

Misi
Menjadikan lembaga pendidikan Islam yang layak dan mudah di contoh.

Dengan senantiasa meneladani Rasulullah Saw, mari tingkatkan terus semangat berbudi sekaligus berprestasi internasional

Rabu, 12 Agustus 2009

Sukses Ujian, Prestasi Sekolah atau LBB?*

Mohammad Efendi **

Coreng hitam menghias muka pendidikan kita awal Mei ini. Pasalnya, seperti yang ramai diberitakan di media, beberapa sekolah gagal meluluskan siswanya. Bahkan ada sekolah di belahan timur Pulau Jawa yang gagal 100 persen. Setelah dirunut, ternyata siswa lebih mempercayai kunci jawaban palsu untuk diisikan di LJK (Lembar Jawaban Komputer), dibanding dengan hasil olah pikir mereka sendiri. Menyedihkan!
Padahal sekolah tersebut tergolong favorit. Solusi yang ditawarkan BSNP pun aneh, dan keluar dari rel. Mengapa demikian? Karena ujian ulang yang akan mereka gelar untuk siswa yang terbukti langcung tersebyut jelas-jelas tak ada dalam POS (Panduan Pelaksanaan Operasional) ujian. Jelas, hal ini menjadi perdebatan marak. Seperti yang kita ketahui, kelulusan SMP dan SMA sangat bergantung kepada hasil Unas mereka. Dan berpatokan pada ketetapan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), tahun ini, angka standar kelulusan sebesar 5,50.

Sementara itu, bagi siswa SD, kelihatannya tak banyak hal yang merintangi untuk dapat lulus. Karena kelulasan masih di tangan sekolah masing-masing. Bahkan boleh jadi, hasil UASBN pun masih bisa dinego sebagai syarat kelulusan. Karena, seperti penuturan Kepala Dispendik Kota Surabaya, Bapak Sahudi, standar komitmen kelulusan siswa SD metropolis ini “hanya “ 2,81. Angka itu didapat dari rata-rata standar kelulusan yang disetorkan sekolah kepada dinas pendidikan. Dan uniknya, meskipun nilai tersebut tergolong minim, itu pun masih bisa dilanggar oleh sekolah yang ngotot siswanya lulus.. “Sekolah boleh melanggar standar komitmen kelulusan tersebut, tapi harus melaporkan kepada kami,” ujar mantan kepala SMAN 15 itu.

Seiring dengan itu, guna meraih kelulusan maksimal, bulan-bulan lalu, sekolah telah mendesain pembelajaran untuk sukses ujian. Usaha gigih yang dipakai manajemen sekolah pun bermacam-macam. Mulai dari pematangan penguasaaan materi pelajaran, sampai mengarah ke spiritual. Les-les sepulang sekolah, atau tambahan jam pelajaran menjadi program yang wajar ada. Bahkan, jika tak ada, ada kalanya wali murid menanyakannya keseriusan sekolah dalam mempersiapkan anaknya untuk ujian. Demikain pula dengan upaya penguatan ruhani lewat shalat malam dan istigosah bersama. Luar biasa!

Namun, benarkah hajat tahunan ini hanya menjadi milik sekolah? Tentu tidak. Ada pihak lain yang turut “memanfaatkan” rutinitas ini untuk mengatrol bisnis mereka, yaitu LBB (Lembaga Bimbingan Belajar). Bagi LBB, momen ujian dimanfaatkan sebagai salah satu poin yang digemborkan ke orang tua untuk membelajarkan anaknya di LBB tersebut. Mereka menawarkan solusi bagi kekhawatiran orangtua akan prestasi belajar anaknya. Mudahnya, seolah mereka bicara, “Jika ingin sukses ujian, ikutlah bimbingan di LBB kami.” Bahkan berdasar penuturan beberapa teman, sudah bukan hal baru jika sekolah merangkul LBB untuk mengisi bimbingan pelajar di sekolah mereka. Jika sudah demikian, berati ada dua pemain yang menjadi katalis peningkatan kemampuan siswa: guru sekolah dan LBB.

Sehubungan dengan itu semua, wajarlah bila kemudian muncul pertanyaan. Bila anak sukses ujian, sedangkan sang anak ikut bimbingan belajar, itu prestasi siapa? Prestasi sekolah atau LBB? Atau semata-mata prestasi siswa? Inilah pertanyaan yang mungkin perlu direnungkan kembali. Bukan untuk menggugat sekolah atau LBB. Tapi lebih semacam upaya mempertanyakan peranan sekolah dalam melaksanakan amanah dalam mendidik siswa. Karena, bagimanapun juga, institusi inilah yang hendaknya didorong untuk mendidik siswa sesuai dengan fungsinya. Jangan sampai keberadaannya termarginalkan oleh LBB.

Tentu menjadi kebanggaan bagi sekolah bila ada siswanya yang meraih nilai UAN tertinggi di wilayahnya. Karena itu merupakan poin positif dalam melambungkan nama sekolah. Namun, benarkan prestasi itu muncul semata-mata sebagai buah upaya sekolah? Ini yang perlu dipertanyakan. Karena bukan tidak mungkin, ada faktor lain yang justru dominan mengalir di dalamnya. Misalnya, dengan nambah jam belajar di luar kelas. salah satunya lewat privat atau LBB. Inilah yang mestinya direkam secara kritis oleh wali murid di Metropolis. Hingga mereka benar-benar bisa memilih sekolah yang sesuai dengan anaknya. Bukan hanya berdasar kata orang, atau label favorit atau nonfavorit saja.

Luar biasa memang, penetrasi LBB ke dunia pendidikan sekarang ini. Kemunculannya yang dulu hanya dianggap sebagai teman belajar siswa, kini menguat menjadi instansi pendidikan itu sendiri. Ada beberapa nama LBB yang kini hadir di Surabaya. Ada yang memang hanya ada di Surabaya saja, namun ada pula yang tergolong LBB besar dan ternama. LBB tersebut telah sukses menjalarkan tangannya di kota-kota tanah air ini. Salah satunya Primagama yang familiar dengan wajah Rano “si Doel” Karno.

Guna menancapkan taringnya di sebuah sekolah, mereka tak segan-segan mengadakan try out gratis. Dan arahnya bisa ditebak, kegiatan ini ibarat kail yang akan menghasilkan bondongan siswa yang ikut nambah kaweruh di tempatnya. Dan jika siswa didikan mereka berhasil diterima di sekolah atau perguruan tinggi ternama (ITS, Unair, UGM, dll), mereka akan memampangkannya di depan tempat bimbingan. Mungkin sebagai pembakar spirit, atau menunjukkan prestasi yang telah dicapai.

Secara pragmatis, kehadiran LBB dan semacamnya dapat menjadi partner sekolah atau orang tua untuk meningkatkan prestasi anak didiknya di sekolah. Jika targetnya hanya kognitif saja. Misalnya sukses UAN, masuk perguruan tinggi, dll. Namun secara menyeluh, terdapat perbedaan mendasar antara keduanya. Yaitu, sekolah tak boleh hanya mengurusi kognitif, tapi juga harus mengembangkan psikomotor dan afektif siswa. Di lain pihak, biasanya ranah psikomotor dan afektif tak diurusi di lembaga-lembaga tersebut. Padahal, dua aspek itulah yang menjadi semangat KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang berganti nama dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).

Masalah pengelolaan pendidikan, dewasa ini memang tak lebas dari penggunaan jaringan. Maksudnya, perlu membangun jaringan kerja sama dengan lembaga-lembaga sejenis yang memiliki tujuan sama. Hingga sekolah yang bersangkutan mampu mengukur prestasi anak didiknya di antara siswa-siswa sekolah yang lain. Hingga, istilah jago kandang tak muncul di sekolah tersebut. Sekat-sekat tembok sekolah perlu disingkirkan sejauh mungkin. Sekolah lewat manajemen terukur harus mampu menempatkan dirinya sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional yang memiliki tujuan sama dengan sekolah-sekolah lain. Jadi, jangan hanya bertarung sendirian. Tapi gunakan kemampuan kebersamaan untuk menyelesaikan masalah pendidikan. Apakah hanya dengan sesama sekolah saja kerja sama itu dibangun? Tak ada salahnya juga dengan LBB. Asalkan, tetap terkontrol.

Berkaitan dengan siswa yang ikut belajar di luar sekolah, secara umum, sikap sekolah di Surabaya cukup beragam. Ada sekolah yang membiarkan, bahkan merasa terbantu. Namun ada juga yang memohon orangtua untuk tetap memercayakan masalah pendidikan anaknya kepada sekolah. Fenomena kedua ini biasanya didasari pada tingkat kelelahan fisik dan emosi siswa yang telah belajar seharian di sekolah. Terutama sekolah berjenis full day. Lagi pula, tak semua masalah pelajaran di sekolah dapat diobati dengan les privat atau ikut LBB. Bisa jadi ada aspek lain yang menyebabkan anak kurang memahami pelajaran.

Namun, yang lebih penting dari itu semua adalah, sekolah harus mampu menunjukkan prestasi secara independen. Maksudnya, prestasi yang diperoleh sekolah haruslah benar-benar jerih payah sekolah. Bukan karena siswa belajar di tempat lain, lalu membuat harum nama sekolah.

efendialhikmah@yahoo.co.id

* Tulisan tersebut dimuat di Radar Surabaya, 8 Juni 2009
** Guru SDBI Al Hikmah Surabaya

Selengkapnya......

Jumat, 07 Agustus 2009

KEBUN SAYUR KELAS 5 SD ALHIKMAH

Ada pemandangan berbeda hari kamis minggu ini (6/8) di kelas 5. Ust. Irsyad yang biasanya selalu rapi dan kemana-mana membawa buku untuk mengajar, hari ini beliau memakai sandal, pake topi, celana dan lengan baju disingsingkan, dan tak lupa sebuah cangkul dipundak beliau. Dibelakangnya diiringi barisan siswa – siswi kelas lima yang tak kalah kompaknya, bersandal serta membawa bermacam-macam alat berkebun. “Ada apa ini?” tanya beberapa wali murid heran. Rupanya dalam 2 jam (13.00 – 15.00) SD Al Hikmah berubah menjadi lahan berkebun.
“Ya, hari ini memang waktunya Gardening untuk kelas 5” ujar Ust. Irsyad selaku ketua pelaksana Gardening tersebut. “Acara ini mengajak siswa – siswi kita merasakan bagai mana rasanya menjadi petani. Mulai dari menyiapkan media (lahan/tanah) pembenihan, menanam, merawat, hingga memanen dan mengolah hasil kebun nantinya” lanjut ust. Irsyad.
Kegiatan ini melibatkan seluruh siswa-siswi dan ustadz dan ustadzah kelas 5. Semua bahu-membahu mempersiapkan media tanam dengan mencampur tanah dan pupuk kandang kering, menyiram air, memberi benih dan perawatannya nanti. Pada awalnya banyak siswa dan siswi merasa enggan berkotor-kotor dengan tanah dan pupuk kandang. Namun setelah diperagakan cara mengolah tanah dan memastikan semua aman oleh Ustd. Yani dan Yuni (Duo Y5), mereka tidak merasa takut dan enggan lagi untuk mencoba berkebun. “Tadinya memang jijik dan takut kotor , tapi setelah dicoba ternyata ngga apa – apa, malah asyik bisa main air sama tanah sambil belajar” ujar Fiqar siswa kelas 5A. untuk perawatannya nanti sudah terjadwal piket menyiram dan merawat bergantian perkelompok. Setiap tanaman juga diberikan nama tiap tiap kelompok. Jadi selain piket menyiram kelompok juga bertugas menjaga benih bisa tumbuh hingga siap dipanen.
“Dalam Gardening kali ini kami mengangkat tema sayur sayuran. Tema ini diambil agar tertanam kegemaran anak-anak pada sayur sayuran dengan memberikan pengalaman bercocok tanam, sehingga merekan tidak ragu lagi untuk mengkonsumsi sayur sayuran” Ujar Ustd. Yuni Korjen Kelas 5.Untuk itu tanaman yang kita tanam kali ini tomat, lombok (red. cabe) sawi, terong dan bayam. “Sayang kami kehabisan benih timun, padahal ada rencana buat rujak gobet, jadi gahal deh… ha.. ha..ha..” cloteh Ustd. Muniroh pecinta rujak gobet. mudah – mudahan acara gardening kali ini bisa berjalan lebih sukses dari tahun tahun yang lalu. Insyaallah setelah lebaran nanti kelas 5 bisa Panen Raya. Mohon do’a restunya ya! (amin). Bravokelas 5.
(Iwan)
Selengkapnya......

Jumat, 31 Juli 2009

Tugas Mandiri Bahasa Indonesia Kelas 4

Anak-anak, sudah mengenal arah mata angin kan?
Kerjakan Tugas Mandiri berikut ini di selembar kertas HVS dan dikumpulkan pada Senin (3/8) di wali kelas masing-masing.


  • Buatlah denah (rute) perjalanan dari rumahmu ke sekolah atau sebailknya!
  • Tulislah tempat-tempat terkenal dan nama jalan-jalan yang ada di sekitar rumah dan perjalananmu!
  • Hiasilah denahmu itu seindah-indahnya! Warnailah sebagus-bagusnya! Okey...
  • Jika sudah jadi, berlatihlah berbicara (di depan cermin/di depan orang tua) untuk menjelaskan denah perjalananmu itu!
    Good Luck!
Selengkapnya......

Senin, 27 Juli 2009

FUN MOS ala SD Al Hikmah

MOS Bukan Sekedar Rutinitas

Tahun pelajaran baru telah tiba. Semua menyambut dengan berbagai rasa. Sebut saja Zidane, siswa kelas 1B. yang pada hari pertama masih takut ke sekolah dan selalu minta ditunggi oleh mama. Namun setelah hari ke tiga langsung berubah.
Ia tidak mau lagi ditunggui oleh orang tuanya karena merasa senang dan enjoy di kelas bersama Ustadzah dan teman-temannya. Apalagi kalau sudah bermain di play ground, wah jadi lupa waktu deh. Apa yang dialami Zidane juga dirasakan oleh hampir semua siswa kelas 1 SD Al Hikmah, dan setelah Masa Orientasi Siswa (MOS) selama 2 minggu 100 persen siswa kelas 1 siap belajar sampai sore dan dipastikan tidak ada lagi anak kelas 1 mogok sekolah.

Ternyata yang membuat anak-anak betah di sekolah adalah adanya rasa nyaman dan aman di sekolah. Selain itu berbagai game yang dilaksanakan saat MOS benar-benar membuat siswa terkesan. Game yang dilakukan saat mos antara lain mini out bond, kereta-keretaan, bowling, Herbarium, dll. Menurut Ustadzah Novia, salah seorang tim BK SD yang juga merupakan salah satu designer permainan, “Semua game yang dipakai saat MOS mempunyai tujuan melatih kemandirian, kognitif, motorik halus dan kasar, serta kerja sama kelompok. Selain itu, kami juga memasukkan beberapa value dalam materi, anta lain mengucap salam, menyapa teman, dll.”.
Acara MOS kelas satu diakhiri dengan ikrar bersama bahwa anak kelas 1 siap belajar sampai sore. Ikrar itu ditulis oles oleh anak-anak di tepi mahkota yang dibawa pulang sebagai kenang-kenangan MOS. Selain itu, pada penutupan MOS juga ada menggambar wajah senyum secara bersama oleh guru dan siswa kelas 1 di spanduk sepanjang 10 meter. “Alhamdulillah, MOS tahun ini berjalan dengan lancer dan tidak ada satu anak pun yang mogok sekolah”, Ungkap Ust. Bambang selaku waka kurikulum kelas 1 – 3 seusai menutup secara resmi rangkaian acara MOS kelas 1 SD Al Hikmah. (bee)
Selengkapnya......

Rabu, 15 Juli 2009

Perpustakaan Sekolah => MInat Baca ?

Ammar *)

Dalam perkembangan peradaban manusia, buku memang memiliki kekuatan yang dahsyat. Kendati demikian, kedahsyatan buku tentu tidak akan ada apa-apanya jika benda tersebut hanya dipajang, tidak pernah disentuh dan dibaca. Dan tampaknya, inilah masalah kita saat ini. Membaca merupakan kegiatan dan kemampuan khas manusia. Walaupun demikian,
kemampuan membaca tidak terjadi secara otomatis karena harus didahului oleh aktivitas dan kebiasaan membaca yang merupakan wujud dari adanya minat membaca.
Minat baca memang dapat dikaitkan dengan kemampuan membaca, dan kemampuan membaca berhubungan dengan bacaan. Oleh sebab itu, bacaan merupakan faktor penting yang perlu disediakan untuk mengasah kemampuan membaca untuk kemudian meningkatkan minat baca. Lemahnya kemampuan membaca, sangat boleh jadi karena kesempatan mengasah lewat bacaan masih langka, apakah karena alasan kesibukan, atau buku bacaan masih menjadi barang mahal. Perpustakaan walaupun bukan satu-satunya indikator minat baca, namun memegang kendali dalam hal memacu minat baca dalam kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang belum menempatkan bahan bacaan sebagai kebutuhan primer yang harus dipenuhi.
Kebanyakan atau bahkan hampir keseluruhan jumlah SD kita miliki jumlahnya sekitar 148.262 SD sedangkan jumlah 132.718 (89,5%) yang memiliki perpustakaan, sedangkan sekitar 15.544 (10,5 %) tidak memiliki fasilitas perpustakaan. Buku pelajaran dan buku bacaan umum tidak terkoleksi secara lengkap. Bahkan, banyak SD yang tidak memiliki ruang khusus untuk perpustakaan dan tidak memiliki petugas khusus yang mengelola perpustakaan. Dengan demikian, wajar saja kalau siswa SD kita tidak memiliki kebiasaan membaca yang memadai. Padahal masalah minat membaca merupakan persoalan yang penting dalam dunia pendidikan. Anak-anak SD yang memiliki minat membaca tinggi akan berprestasi tinggi di sekolah, sebaliknya anak-anak SD yang memiliki minat membaca rendah, akan rendah pula prestasi belajarnya (Wigfield dan Guthrie, 1997).
Untuk itu diperlukan adanya perberdayaan perpustakaan sekolah dengan fasilitas dan koleksi buku bacaan yang memadai khususnya sekolah dijenjang SD karena di usia ini pihak sekolah bisa membentuk dan menumbuhkan minat baca bagi siswa untuk keranjingan membaca dan siswa benar-benar memanfaatkan fasilitas perpustakaaan yang ada di sekolahnya. Tentu saja kerja sama oleh semua pihak sangat dibutuhkan antara lain kepala sekolah, wali kelas, guru pengajar, pustakawan, karyawan, wali murid serta peranan pemerintah untuk membantu dan memberikan motivasi kepada siswa. Marilah kita bekerja sama dan sama-sama bekerja untuk mewujudkan perpustakaan sekolah yang handal.

*) Pustakawan SDBI Al Hikmah
Selengkapnya......

Senin, 13 Juli 2009

Pekan Masa Orientasi Siswa

Liburan telah usai, aktivitas belajar siswa di sekolah kembali seperti sediakala. Untuk lebih memberikan semangat baru dilaksanakan program MOS (Masa Orientasi Siswa) Tahun Ajaran 2009/2010 untuk seluruh kelas. Dalam kegiatan MOS, selain sebagai 'pemanasan' kembali setelah libur kenaikan kelas selama 2 pekan juga ditanamkan value sesuai dengan jenjang kelasnya.
Untuk kelas 1 dilaksanakan selama 2 pekan sementara untuk kelas 2 s.d kelas 6 dilaksanakan 1 pekan dengan berbagai kegiatan yang menarik, menyenangkan, dan bermakna.
Selengkapnya......

Kamis, 25 Juni 2009

ILUSI RELIGI

Kamis (25/6) tepat jam 08.00 WIB pameran lukisan kelas 5 SD Al-Hikmah Surabaya secara resmi dibuka Kapolres Sidoarjo, AKBP Drs. Setija Junianta, M.Hum. yang juga wali murid dari ananda Diva Dwiputra kelas VC.
Pameran ini digelar setiap tahun sebagai bentuk perwujudan kreasi siswa kelas 5. Tema kali ini adalah “ Cinta Kepada Al Quran “ jadi sebagian besar lukisan yang dipajang bertemakan Asmaul Husna dan lukisan keindaan ciptaanNya. Jumlah lukisan yang dipamerkan kurang lebih 375 buah dengan ukuran besar/kecil.
Dalam sambutannya AKBP Drs. Setija Junianta, M.Hum. mengatakan bahwa siswa di sekolah tidak hanya menuntut ilmu tetapi juga harus berperilaku yang baik sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah Muhammad SAW, seperti hormat kepada orang tua, guru, ataupun kepada orang yang lebih tua. Disamping itu wujud cinta kepada Alquran tidak hanya menulis ayat-ayatNya di kanvas tetapi lebih mengamalkan ayat-ayatNya tersebut di setiap harinya.
Lukisan yang dipamerkan ini dipasang label nominal harga antara Rp.100.000 – Rp. 300.000, bahkan ada siswa yang mematok harga sampai Rp. 500.000. Tentu saja hal ini disesuaikan dengan aspek keindahan dari lukisan tersebut. Alhamdulillah sehari sebelum pameran dibuka, telah laku terjual 5 lukisan yang dibeli seorang kolektor dari Jakarta. Rencananya hasil dari penjualan lukisan ini dikembalikan kepada siswa dan diambil sedikit sebagai infak yang akan diserahkan kepada pihak yang berhak menerima.
(Read One)
Selengkapnya......

Rabu, 24 Juni 2009

Mengasah Kreativitas dan Keberanian Lewat Lomba

Beberapa hari terakhir sebelum rapor dibagikan, anak-anak SD AL Hikmah serentak mengikuti berbagai lomba yang ada. Diantaranya, lomba nyunggi tempeh, sepak bola, membaca doa dan ikrar dalam bahasa inggris. Kemarin, tepatnya hari Selasa tanggal 24 Juni anak-anak kelas dua mengikuti lomba membaca doa dan ikrar dalam bahasa inggris. Lomba ini diadakan di serambi Masjid Al Hikmah.

Lomba ini menampilkan seluruh siswa kelas dua dalam kemahirannya dalam berbicara bahasa Inggris, Arab, dan Indonesia. Anak-anak sangat antusias mengikuti lomba ini. Penilaiannya meliputi kekompakkan kelas, intonasi suara, dan kerapian. Tiap kelas menampilkan kreativitasnya masing-masing. Sungguh penampilan yang sangat menarik dan patut kita acungi jempol,karena tanpa kita sadari, ternyata anak-anak tampil dengan berani dan percaya diri di hadapan orang banyak, mereka tampil kreatif dalam menyajikan materi yang dilombakan. Tak heran,jika suasana menjadi begitu meriah oleh tepuk tangan penonton dan dewan juri. Anak-anak tampil begitu menawan, sehingga dewan juri sedikit kewalahan dalam memberikan penilaian. Tim juri terdiri dari guru bahasa inggris yang terdiri dari tiga orang. Ternyata, potensi anak-anak sangat luar biasa bila diberikan wadah yang tepat. Selain untuk melatih keberanian dan kekompakan, juga untuk mengasah potensi mereka yang terpendam selama ini. (sugeng)
Selengkapnya......

Selasa, 23 Juni 2009

TASYAKURAN


“Ustadz, aku besok bawa apa, ya? Aku bingung?” celetuk seorang siswa kelas IV. Ya, Ujian Kenaikan Kelas (UKn) sebagai pekan menegangkan telah selesai dilaksanakan pekan kemarin, mulai kelas I s.d. kelas V. Pekan ini, 22 –26 Juni 2009, para siswa memasuki pekan pasca-UKn di mana para siswa akan mendapat program atau acara yang sangat menyenangkan dirinya. Setiap kelas memiliki cara sendiri untuk mengisi acara pasca UKn.


Kelas IV mengadakan acara tasyakuran di kelas masing-masing. Acara ini merupakan salah satu bentuk syukur kelas IV kepada ALLAH swt karena telah melewati masa “menegangkan”: UKn. Para siswa membawa makanan sendiri-sendiri sesuai yang mereka sukai. Kemudian, makanan itu dikumpulkan di atas meja untuk dinikmati bersama. “Ustadz, tolong bukain punyaku. Aku nggak bisa bukanya.” Pinta Haris kepada ustadz untuk membatu membuka sekardus susu yang dibawanya dari rumah. Setiap anak membawa makanan sendiri tanpa diatur seperti acara cooking class sebelumnya. Dan alhamdulillah, setiap makanan yang dibawa anak-anak berbeda: buah jeruk, semangka, apel, nasi goreng, mie goreng dan lain-lain. Semua lengkap. Setelah diisi perenungan diri serta evaluasi kegiatan selama satu tahun oleh wali kelas, semua berdoa bersama.

Selesai berdoa, “Alhamdulillah, selamat menikmati anak-anak.” Semua siswa segera mengambil makanan yang ada di meja. Dalam kegembiraan itu, mereka mengajak teman-teman di kelas lain untuk menikmati makanan bersama.
“Ustadz, ini aku berikan ke labkom ya.”
Ustadz, ini aku kirimkan ke UKS ya. Mereka kan juga membantu kita selama satu tahun ustadz.” Begitu alasan anak-anak yang diberikan kepada ustadznya. Tidak hanya Labkom dan UKS, mereka juga mengirimkan makanan ke Perpustakaan, dan Lab Multimedia.
Subhanallah...
(amur)
Selengkapnya......

Jumat, 19 Juni 2009

Al Hikmah Honesty Award


Ketika banyak pihak menyoroti angka-angka capaian Unas, Sekolah Al Hikmah lebih tertarik memberikan penghargaan bagi siswanya yang telah mengikuti Unas dengan jujur. Jumat (19/6) pengurus YLPI Al Hikmah menganugerahkan Al HIkmah Honesty Award kepada siswa kelas 6 SD, kelas 9 SMP dan kelas 12 SMA Al Hikmah. Sebuah piala warna kuning emas setinggi 2 meter, bergambar hati di atasnya.

Hadir pada acara yang digelar lesehan di serambi masjid sekolah ini, seluruh pengurus, komite sekolah, para guru dan pimpinan sekolah, perwakilan dari UPDT BPS Kecamatan Gayungan, dan siswa kelas 6, kelas 9 dan 12 Sekolah Al Hikmah.
“Mendapatkan nilai yang baik dalam UASBN memang penting, Tetapi meraih nilai tersebut dengan usaha yang jujur jauh lebih penting. Alhamdulillah, saya bangga kepada siswa Al Hikmah yang bisa mempertahankan tradisi kejujuran ketika mengikuti ujian”, kata Ir. Abdulkadir Baraja, Pembina YLPI Al Hikmah.
“Saya terharu diundang menghadiri acara ini. Bagi saya ini spesial, karena yang lebih dihargai adalah kejujuran siswa. Dan memang saya percaya selama ini memang pelaksanaan Unas di Al Hikmah jujur. Saya yakin tahun depan prestasi siswa akan lebih baik lagi”, kata Fatahullah, SH, Kepala UPDT BPS Kecamatan Gayungan.
Muhammad Nouval Isroq Pratama, siswa kelas 6, mengaku senang dengan pemberian penghargan ini. “Kami memang selalu diminta jujur. Tak perlu nyontek. Kan kami memang sudah siap ikut ujian. Sudah lama siap-siapnya”
Setelah menerima piala tersebut, siswa-siswa berebut mengangkatnya. Mereka lalu mengaraknya di sepanjang jalan sekitar sekolah. Sambil berjalan, mereka juga membagikan beras kepada tukang becak, pasukan kuning, penjaga rel kerta api, polisi cepek. Juga kepada tukang kebun dan satpam sekolah.
Beras tersebut merupakan sumbangan seluruh pengurus yayasan, komite sekolah, guru dan karyawan dan orang tua siswa. Tidak kurang dari 2 ton beras telah terkumpul.
Kenapa mensyukurinya dengan beras ?
“Pertama, beras adalah kebutuhan pokok semua orang. Beras juga berasal dari padi. Kami ingin anak-anak seperti beras, dibutuhkan kehadirannya oleh masyarakat. Sekaligus meniru padi, lebih berisi lebih rendah hati”, kata Drs. Gatot Sulanjono, Kepala SD Al Hikmah.
Selengkapnya......

Jumat, 12 Juni 2009

Status SBI, Sebuah Renungan Bersama

Ratih Fitria Dewi *)

Tulisan ini saya buat ketika rekan-rekan saya sedang sibuk-sibuknya memperjuangkan sertifikasi. Ketika melihat mereka berjuang sekuat tenaga sehingga keluarlah niat saya untuk ikut “berjuang” keluar dari zone nyaman rutinitas sebagai guru, lalu coba-coba menulis, hitung-hitung sebagai trial & error semoga saja bisa memberi manfaat.

Ketika sekolah ini mendapat status sebagai Sekolah Bertaraf Internasional adalah sebuah rasa kebanggaan di hati karena ini untuk pertama kalinya sebuah lembaga yang bervisi dakwah melalui misi pendidikan memulai merintis jalur internasional. Bagaimana tidak ini berarti kita sudah berdiri sebagai umat yang bergabung dengan umat lain dibelahan bumi lain dalam ikatan internasional. Dan saya yang masih belum ada apa-apanya ini bisa pula terlibat di dalamnya.
Allah telah menegaskan posisi kita sebagai khoiru ummah (umat terbaik) maka tidak selayaknya kita dengan status SBI ini kemudian melanggar dan boleh keluar dari semua identitas islami atas dasar status internasional. Penggunaan bahasa inggris yang mulai kita beri proporsi perhatian hendaknya hanya sebuah sarana untuk mengokohkan dan semakin menebalkan konsep kita dalam menyebarkan konsep Islam rahmatan lil alamin. Sebagai bagian dari umat lain dipenjuru dunia lain untuk berdiri bersama memakmurkan bumi dan segala isinya.
Kedua, hendaknya konsep internasional yang kita raih bisa menjadi pemecut semangat kita untuk mengambil hal-hal positif dari bangsa Raffles ini. Inggris dikenal semangat pantang menyerahnya, demokratis dalam bersikap, namun amat bangga dengan tradisi leluhurnya sehingga sering disebut bangsa konservatif.
Begitu pula kita sebagai seorang guru. Nilai pantang menyerah dalam menghadapi permasalahan anak didik, mau semakin melebarkan telinga untuk mendengar keluh kesah atau cerita anak-anak kita dan bangga dengan izzah sebagai muslim.
Ketiga, status internasional ini adalah sebuah amanat besar untuk menjawab tantangan hadirnya “produk” sekolah yang berbasis dakwah dalam kancah internasional, yaitu hadirnya generasi muslim sejati, generasi mandiri, mampu mempertahankan kehormatan dan harga dirinya sekaligus mampu menyebarkan rahmat bagi semesta alam.
Itulah sebabnya saat ini saya sedang berusaha keras dan terus belajar menanamkan itu semua dalam praktek bertahap saat mengajar ataupun sebagai mitra kelas. “Menggarap” keberanian untuk mempraktekkan bahasa Queen Elizabeth ini dalam kegiatan sehari-hari. Like Mr. Fadholi (my shensei di English Learning) have said to me : “Practice makes perfect” . Juga belajar menjadi guru yang lebih banyak mendengarkan ketimbang sekedar mendengar ketika anak-anak bercerita hal-hal “remeh” macam Adhnan yang bercerita tim sepak bola kesayangannya ataupun Rafi yang sangat kagum dengan Ultramannya.Semoga semangat internasional dalam bahasa komunikasi kita, juga berimbas pada cara pandang dan ketakwaan kita yang men”dunia”..

*) Guru SDBI Al Hikmah
Selengkapnya......

kontak via email : sdalhikmah@gmail.com